Monday, April 22, 2019

Bambu Dan Kearifan Lokal Toraja


Kehidupan masyarakat Toraja memang tidak bisa dipisahkan dari bambu, hampir semua kegiatan keseharian mereka menggunakan properti dari bambu, terlebih pada kegiatan upacara adat.


Begitu pun pada rumah adat Tongkonan, sejatinya penggunaan bambu sudah sejak lama digunakan oleh orang Toraja pada Tongkonan, yaitu pada bagian atap dan ceiling/plafond. Bila Anda pernah berkunjung di Kete' Kesu', beberapa Tongkonan di sana menggunakan atap bambu, begitu juga dengan Tongkonan-Tongkonan yang berumur ratusan tahun, material atapnya adalah bambu.

Foto di atas menggambarkan detail bagaimana masyarakat adat Toraja menggunakan bambu sebagai salah satu material utama pada bangunan Tongkonan di Kete' Kesu'. Material bambu disusun dengan rapi di atas struktur bangunan yang dibangun dari kayu Uru (kayu lokal Sulawesi).

Penyusunan dari bambu belah dikaitkan satu dengan yang lain, dibuat berlapis (berlayer-layer) sehingga secara bersama-sama mampu menghadirkan fungsi atap dengan baik, yaitu sebagai pelindung dari sengatan sinar matahari dan terpaan hujan, sekaligus merupakan solusi arsitektural yang sustainable.

Salah satu keuntungan menggunakan bambu untuk atap, khususnya di wilayah Toraja yang merupakan wilayah pegunungan, tentunya adalah ketika dikombinasikan dengan material kayu akan menjaga temperatur dalam ruangan sehingga tetap hangat di tengah udara dingin pegunungan ketika malam hari. Sementara di siang hari tidak menyerap panas dengan cepat sehingga ruangan tetap sejuk.

Pemanfaatan bambu sebagai bagian dari bangunan Tongkonan dan kegiatan lain merupakan satu dari sekian banyak kearifan lokal masyarakat Toraja. Sadar akan ketergantungan mereka pada bambu, pelestarian tanaman ini pun dilakukan, meski masih dalam skala kecil (keluarga atau kelompok adat). Jangan heran bila berkunjung ke Toraja, Anda akan melihat tanam bambu di mana-mana.

Namun sangat disayangkan, di Toraja sendiri saat ini sudah banyak ditemukan rumah Tongkonan yang menggunakan material baru khususnya pada material atap dan ceilingnya. Bambu mulai digantikan dengan genteng metal maupun seng, mungkin dengan pertimbangan lebih mudah, praktis, murah, dan cepat dalam pemasangan dan pembangunannya.

Menjadi kewajiban kitalah menjaga kearifan-kearifan lokal semacam ini (local wisdom) dan kelak mengaplikasikannya pada rumah urban sederhana kita, sesuai dengan konteks lokal dimana rumah tersebut berada. Dengan demikian, ilmu yang berharga tersebut akan lestari dan tidak hilang begitu saja ditelan zaman.

No comments: