Monday, February 5, 2018

SERUNYA PETUALANGAN DI HULU SUNGAI MAROS, BONTOSOMBA


Sabtu, 3 Februari 2018, bersama 4 orang sahabat saya memulai perjalanan menuju arah timur kota Makassar. Petualangan kali ini adalah buah dari rasa penasaran setelah menyusuri aliran hulu sungai Maros (Marusu) via Google Earth. Menurut analisa saya, berdasarkan pengamatan tanda-tanda alam di Google Earth selama ini, di hulu sungai Maros banyak air terjun kecil. Ini karena kontur alam bukit-bukit yang dilewati oleh sungai tersebut. Selain itu, petualangan kali ini lebih kepada kerinduan menyatukan diri dengan alam, tidur di belantara, menikmati nyanyian serangga dan alunan irama dedaunan yang ditiup angin, menghirup aroma tanah basah dan menyeruput air sungai yang bening.


Perjalanan kami mulai dari Pasar Carangki, setelah beberapa saat menunggu teman-teman mempersiapkan bawaan mereka. Iringan motor menyusuri kanal air baku PDAM Kota Makassar yang berhulu di Bendung Lekopancing. Perjalanan dengan roda dua memang sangat dianjurkan untuk rute kali ini. Dari Desa Pucak, menyeberangi jembatan menuju ke Desa Masale untuk selanjutnya mengarah ke timur, Desa Bontomanurung.  Akses jalan yang sudah lumayan bagus dibanding  empat tahun lalu saat terakhir kali melintas di jalur ini. Hampir 80% jalan menuju ke Desa Bontomanurung sudah dibeton dengan lebar 4 meter. Ini adalah salah satu keberhasilan pemerintah Kabupaten Maros untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jalan di Kabupaten Maros. Satu jam lebih berkendara, kami tiba di Dusun Bahagia, Desa Bontomanurung. Di rumah seorang teman, kami beristirahat sejenak sekaligus berkoordinasi tentang jalur yang akan kami lewati nanti.





Perjalanan ke dusun terakhir, tempat menitipkan motor

Setelah makan siang dan menghabiskan segelas kopi, perjalanan kami lanjutkan. Kondisi jalan yang tidak berbeton lagi membuat kecepatan motor sedikit melambat, kerikil dan batu sebesar kepala manusia silih berganti bermunculan di tengah jalan, ditambah lagi kontur jalan menurun dan mendaki yang bahkan sampai kemiringan 45 derajat. Di atas air terjun Pung Bunga, sebuah jembatan gantung menjadi akses menuju ke kampung sebelah, perjalanan semakin berat, kerikil-kerikil kecil tidak tampak lagi, sepertinya sudah tergerus air hujan selama ini. Tinggal batu-batu gunung sebesar kepala manusia yang posisinya sudah tidak beraturan lagi, ditambah tanah merah yang licin membuat beberapa kali ban motor kami selip bahkan hampir terjatuh. Alhasil, jarak tempuh yang hanya sekitar 1,5 kilometer, harus kami habiskan setengah jam lebih.

Di rumah salah satu warga yang masih kerabat dengan salah satu teman, kami memarkir motor dan sedikit berkoordinasi sekaligus meminta izin. Perjalanan kami lanjutkn dengan berjalan kaki menuruni bukit mengikuti jalan kampung, sesekali saya membuka aplikasi Outdoor Navigation di smartphone untuk memastikan arah yang kami tuju sudah betul. Bila ditarik garis lurus, jarak kami ke sungai sebenarnya hanya sekitar 200-300 meter dan bila dilihat di peta google sangat dekat. Tapi kondisi sesungguhnya sangat jauh berbeda, lereng bukit yang curam, hutan dengan kanopi yang rapat dan tidak ada jalur menuju ke bawah. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk membuat jalur sendiri menuju ke sungai. Parang dan sangkur menjadi senjata untuk membabat semak dan tanaman liar yang menghalangi jalan. Kemiringan jalur membuat kami harus ekstra hati-hati, ditambah kondisi tanah yang licin selepas hujan tadi, salah perhitungan sedikit bisa-bisa kami meluncur bebas ke bawah.


Jam sudah menunjukkan pukul 17:30, sementara kami masih “terperangkap” di tengah hutan dengan kontur yang sangat miring, gemuruh air sungai sudah sangat jelas terdengar, di aplikasi Outdoor Navigation menunjukkan posisi kami yang sudah tidak jauh dari sungai, tapi untuk sampai ke tepi sungai ternyata sangat susah. Tebing-tebing batu yang curam dan berdiri tegak seperti tembok tinggi yang membatasi tanah dengan bibir sungai. Kami masih berputar-putar mencari jalan menuju ke sungai, sampai akhirnya kami berkesimpulan bahwa hampir seluruh bibir sungai berkontur yang sama, kami tidak mau mengambil resiko yang lebih berat, akhirnya kami sepakat untuk mencari lokasi camp untuk malam ini.



Di sebuah titik dengan kemiringan tanah sekitar 30 derajat dan dekat dengan sungai kecil yang menjadi sumber air, kami memutuskan untuk membuat bivak tempat kami menginap malam malam ini. Kemiringan tanah 30 derajat ini sudah sangat lumayan dibanding titik yang lain. Hanya sekitar 50 meter ke bawah, sebenarnya adalah bibir sungai, namun tidak ada tempat camp yang bagus, apalagi tebing batu yang tinggi tidak memungkinkan kami untuk sampai ke sungai. Selembar tepal 3x4 kami bentangkan dari pohon ke pohon, hammock juga kami gantung untuk tempat tidur, sementara yang lain mempersiapkan menu makan malam.

Makan malam yang nikmat, dengan menu tanpa mie instant membuat kami sangat lahap, mungkin juga karena kondisi badan yang letih dan kedinginan. Secangkir kopi dan beberapa cemilan menjadi teman untuk melanjutkan bincang-bincang santai kami. Tenang sekali, gemuruh sungai di bawah kami tidak sampai mendominasi suara-suara serangga dan hewan-hewan hutan. Karena kelelahan satu persatu menuju ke hammock masing-masing, tidur sambil sedikit terjaga dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Pukul 3 subuh, saat sedang asyik-asyiknya kami tidur, hujan deras tiba-tiba turun, percikan air hujan dari segala arah membasahi bivak kami, untunglah ada terpal yang sedikit membantu, meski bentuknya tak beraturan lagi karena hantaman air hujan dan tiupan angin. Teman-teman yang tadi pulas di hammock masing-masing pun berlarian menghindari basah yang pasti akan menambah dingin. Berlima kami berkumpul di bawah terpal, karena perapian sudah mati, kompor pun menjadi alternatif pengusir dingin.

**
Sisa air hujan masih menggantung di ujung dedaunan, kepergiannya juga menyisakan tanah yang licin, membuat pijakan tak lagi stabil. Pagi ini, secangkir kopi dan roti tawar menjadi menu sarapan, sekedar untuk mengisi perut kosong sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah membereskan perlengkapan, petualangan kami lanjutkan, mencari jalan terdekat dan tidak terlalu susah menuju ke sungai. Jalur yang kami ambil adalah menuju ke arah hulu, menurut petunjuk di Outdoor Navigation, tak jauh dari posisi kami ada jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai. Jalur menuju ke jembatan kami pilih, kemungkinan di sana ada jalan warga yang pasti lebih mudah dari pada jalur kami. Tapi sekali lagi, perjalanan menuju ke jembatan tersebut sangat sulit, bahkan kemiringan tanahnya semakin ekstrim. Sebuah sungai kecil memotong jalur, kami sepakat untuk mengikutinya menuju ke tepi sungai. Dan untuk pertama kali kami menginjakkan kaki di salah satu tepi sungai, di atas sebuah batu besar yang aman dari aliran sungai yang sedang bergemuruh menumpahkan sisa air hujan subuh tadi. Dari atas batu di tepi sungai kami sudah melihat penampakan jembatan yang tak jauh di atas kami, sebuah jembatan gantung.


Dari tempat kami di tepi sungai, tak ada jalan menuju ke jembatan, lagi-lagi tebing batu yang curam memutus jalur kami menuju jembatan, membuka jalur lagi-lagi menjadi pilihan untuk sampai ke jembatan. Bila perjalanan kemarin lumayan gampang karena hanya menurun, kali ini terasa sangat berat karena harus menanjak untuk memutari batu besar yang menjadi pemisah kami dengan jembatan. Di satu kesempatan, kami tersentak kaget bukan main ketika seekor ular tiba-tiba memotong jalur perjalanan kami.






Kami tiba di jembatan gantung, rupanya jembatan ini adalah jembatan penghubung dengan warga ke Dusun Bara, masih di Desa Bontomanurung. Seandainya tidak keburu malam, mungkin kemarin kami akan menuju ke titik untuk camp, sumber air yang banyak dan kontur tanah yang tidak terlalu miring. Setelah makan siang, kami beristirahat sambil menikmati sajian alam, teman-teman pun sibuk mencari spot foto yang bagus. Sayang sekali arus sungai terlalu deras akibat hujan, saya membayangkan betapa serunya menelusuri sungai yang penuh dengan batu-batu besar di sepanjang alirannya ini. Kami tak bisa berbuat banyak, hanya meikmati aliran sungai dari atas, mungkin suatu hari nanti di luar musim hujan kami akan kembali menuntaskan rasa penasaran.


Ditulis di Makassar, 5 Februari 2018

No comments: