Sunday, November 19, 2017

MAPPALILI’ ARAJANG, KEARIFAN LOKAL YANG MASIH LESTARI


Sabtu, 18 November 2017, saya berkesempatan untuk menghadiri acara MAPPALILI’ ARAJANG di Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Kecamatan Segeri adalah salah satu daerah di Kabupaten Pangkep yang sampai saat ini masih menjaga tradisi MAPPALILI’ ARAJANG, sebuah rangkaian ritual menyambut dan menentukan waktu musim tanam padi atau awal turun sawah, salah satu ritual sakral di dalamnya adalah pencucian Arajang (benda pusaka) berupa sebuah Rakkala atau alat pembajak sawah, pusaka yang dianggap bertuah.

Bertempat di Arajangnge, sebuah bangunan berupa rumah panggung yang menjadi tempat disimpannya Arajang (Rakkala), sekaligus tempat diadakannya upacara-upacara adat oleh Bissu.
Arajangnge terletak di Desa Bontomene, Kecamatan Segeri. Seluruh rangkaian ritual Mappalili’ Arajang dimulai dari sini.

Mappalili’ digelar setiap tahun sebelum musim tanam padi dimulai. Tahun 2017 ini, Mappalili’ diadakan pada tanggal 17-19 November, dimulai dengan penentuan hari dimulainya rangkaian prosesi Mappalili’ oleh para Bissu dipimpin oleh Bissu Puang Matoa (pemimpin tertinggi Bissu dalam struktur hirarki). Penentuan hari biasanya berpatokan kepada bulan Hijriah atau penanggalan Islam dan Lontara Kutika, yaitu lontara yang menjelaskan hari baik dan buruk dalam keseharian orang Bugis. Waktu yang dipilih untuk memulai ritual pertama yaitu Matteddu’ Arajang adalah asera ompo’na ulengnge, (malam ke 9 setelah purnama), asera temmate dan parallawali atau seimbang antara yang lewat dan akan datang. Setelah melewati musyawarah akhirnya ditentukan rangkaian ritual Mappalili’ pada tanggal 18 November 2017 yang bertepatan pada 29 Safar 1439H.


Bissu Puang Matoa Nani memimpin arak-arakan Arajang


Pada tanggal 29 Safar 1439H atau tanggal 18 November 2017 rangkaian ritual Mappalili’ dimulai dengan prosesi Matteddu’ Arajang. Matteddu’ Arajang atau membangunkan benda pusaka (rakkala) bukanlah perkara mudah, ada ritual yang harus dilakukan oleh Bissu dan pemuka adat dipimpin oleh Bissu Puang Matoa. Setelah melalui prosesi untuk Matteddu’ dilanjutkan dengan Mappalesso’ atau membaringkan Arajang. Setelah Arajang dibaringkan, dilanjutkan dengan Mallekke wae dan Labbu lalle yaitu mengambil air sungai dan batang pisang lalu dibawa ke Arajangnge. Batang pisang yang diambil harus utuh. Air sungai dan batang pisang tersebut digunakan untuk ritual memandikan Arajang sebelum diturunkan ke sawah.

Arajang Rialu’, adalah prosesi selanjutnya setelah Arajang dimandikan. Prosesi ini dilaksanakan pada hari kedua atau hari puncak dari rangkaian Mappalili Arajang. Pagi-pagi sekali, seiring terbitnya matahari, Arajang diarak menuju sawah di Kampung Segeri. Arajang diusung dan diantar oleh 25 orang yang terdiri dari pembawa Arajang dan pembawa bendera, kemudian diikuti oleh warga di belakang pengusung Arajang. Arajang akan diarak dalam proses yang khidmat dan sakral dari Arajangnge menuju Segeri untuk pelaksanaan ritual Majjori’ dan selanjutnya akan diarak ke pasar Segeri, sungai Segeri dan selanjutnya dibawa pulang kembali ke Arajangnge.
Majjori’, adalah ritual terakhir dari prosesi Mappalili’. Majjori’ inilah puncak dari seluruh rangkaian Mappalili’ Arajang, setelah prosesi ritual Majjori’ maka kegiatan turun ke sawah sudah bisa dimulai. Kepercayaan warga, bila ada yang melaksanakan kegiatan musim tanam sebelum ritual Majjori’ atau seluruh rangkaian Mappalili’ ini selesai maka yang bersangkutan akan mengalami panen yang tidak memenuhi harapan, padi yang ditanam akan mengalami fuso hingga gagal panen.

Setelah ritual Majjori’, selanjutnya arak-arakan pembawa Arajang akan kembali ke Arajangnge untuk kemudian disimpan dan menunggu prosesi Mappalili’ tahun depan. Arak-arakan akan melewati Pasar Segeri dan Sungai Segeri. Pasar segeri disimbolkan sebagai urat nadi perekonomian, kemakmuran, kesejahteraan dan kemampuan daya beli warga Segeri, diharapkan keberkahan juga akan senantiasa meliputi kegiatan perekonomian di Pasar Segeri. Selanjutnya arak-arakan akan melewati Sungai Segeri, sungai dan air disimbolkan sebagai urat nadi kehidupan masyarakat Segeri, semoga keberadaannya senantiasa memberi keberkahan dan dijauhkan dari malapetaka yang bisa ditimbulkannya.
Yang menarik, dalam perjalanan kembali ke Arajangnge, ada atraksi sijimpo-jimpo, yaitu saling siram air. Rombongan arak-arakan serta warga yang dilalui oleh rombongan akan terlibat saling siram air. Sijimpo-jimpo adalah wujud suka cita warga yang telah melaksanakan Mappalili’ dan akan memulai musim tanam padi. Keceriaan, tawa dan luapan kegembiraan terpancar dari wajah mereka, saling menyiram air meski tak saling kenal, tidak ada batasan antara yang tua dan yang muda, yang kaya atau yang miskin, perempuan dan laki-laki, bahkan pejabat pemerintahan, semua terlibat aksi saling siram. Sijimpo-jimpo juga adalah ungkapan syukur serta harapan semoga keberkahan selalu ada mengiringi keseharian warga Segeri.

Antusias warga menyiapkan air untuk atraksi Sijimpo-jimpo 


Setelah melewati Sungai Segeri, arak-arakan langsung dibawa ke Arajangnge untuk kemudian disimpan ditempatnya. Kegiatan Sijimpo-jimpo tak berhenti, tetap dengan penuh suka cita warga saling siram air, hingga tak nampak satu pun warga di sekitar Arajangnge yang tidak basah.

Seluruh prosesi ritual Mappalili’ telah dilaksanakan, musim tanam padi pun sudah bisa dimulai, seluruh warga akan berduyung-duyung menuju ke sawah dengan harapan keberkahan akan selalu ada disetiap usaha mereka hingga panen nanti.

Penulis bersama Bissu Puang Matoa Nani


Mappalili’ Arajang, sebuah tradisi dan kearifan lokal yang masih terjaga di tanah Segeri. Peran Bissu sebagai pengawal tradisi tak bisa terpinggirkan, merekalah yang selalu ada di garda terdepan untuk setia menjaga tradisi warisan para pendahulu.
Selamat dan doa kita haturkan kepada Bissu Puang Matoa Nani yang telah dilantik menjadi Bissu Puang Matoa pada Jumat, 17 November 2017, menggantikan Almarhum Puang Matoa Saidi yang meninggal pada 2011 lalu.

Segeri, 19 November 2017

No comments: