Thursday, August 18, 2016

Meresapi Makna Kemerdekaan Di Dusun Salometti


Bukan di gunung, bukan di pulau, bukan di kota yang riuh penuh kegembiraan menyambut Hari Kemerdekaan, saya bersama teman-teman dari JJS Makassar, JJS Maros dan JJS Gowa memilih merayakan suka cita Hari Kemerdekaan di sebuah Dusun kecil di Kabupaten Maros.

Dusun Salometti di Desa Toddolimae, Kecamatan Tompobulu kami pilih sebagai tempat untuk melaksanakan puncak perayaan Hari Kemerdekaan dalam "Kemping Merdeka". Di sebuah tanah lapang kecil di belakang SD Negeri Salometti, puluhan tenda warna warni lengkap dengan hiasan merah putih sudah berdiri sejak hari Selasa sore 16 Agustus 2016. Tak ada keriuhan di Dusun kecil sini, tak ada ouphoria layaknya di belahan Nusantara lain, hanya bendera merah putih dan beberapa umbul-umbul yang menghiasi halaman rumah warga sekedar mewakili ungkapan kebanggan mereka telah menjadi warga Negara Republik Indonesia.
Bekerja keras dan bersyukur sudah cukup bagi mereka untuk memaknai kemerdekaan. Hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahaan, bersahaja dalam memperlakukan alam adalah lebih penting bagi mereka dibanding berpesta pora.
Maka, ketika kami datang di sana, tidak ada yang istimewa bagi mereka. Layaknya kedatangan-kedatangan kami sebelumnya untuk berbaur dengan mereka, menjadi warga kampung sehari dua hari. Mereka tetap menyambut dengan senyum ramah, ada raut kerinduan terpancar dari wajah mereka, kerinduan akan suasana "anak kota" sederhana yang datang bukan untuk menegaskan status, tapi berbaur layaknya mereka orang-orang dusun. Bapak-bapak tetap turun ke sawah dan ladang, ibu-ibu sibuk menyiapkan makan buat keluarga, serta anak-anak bermain di halaman rumah, satu persatu mereka pun mendekat ketika tau kami akan berkemah di lapangan Desa, sekali lagi tak ada yang istimewa.


Sore hari di hari Selasa itu, matahari mulai condong ke barat, teman-teman sibuk membenahi tempat camp, sebagian menyiapkan makan malam, sementara yang lain berkeliling dusun mengajak anak-anak untuk bermain di sekitar tempat camp. Beberapa agenda telah kami siapkan selama "Kemping Merdeka", salah satunya adalah bermain permainan ala 17an bersama adik-adik di dusun Salometti. Tak lupa hadiah telah kami siapkan dari rumah, hadiah sederhana yang dibawa oleh masing-masing peserta "Kemping Merdeka" selain komitmen untuk sama-sama berbagi kebahagiaan dengan adik-adik dusun Salometti.

Malam telah datang, dingin musim kemarau mulai menyelimuti, api unggun menyala seolah membakar semangat Nasionalisme. Sekejap kami berdiam diri mengitari api unggun, bertanya dalam hati masing-masing tentang makna kemerdekaan bagi kami. Semua pandangan fokus ke api unggun, menikmati detail demi detail lidah-lidah api yang terus membakar, layaknya seperti itulah semangat yang ada dalam dada kami, semangat untuk tetap menjaga Negeri ini dalam lingkar NKRI, semangat untuk tetap menjaga alam Indonesia, semangat untuk berbuat demi Negeri.

Pagi hari di 17 Agustus 2016, senyum kemenangan tersungging dari bibir teman-teman JJS yang masih malas beranjak dari bibir tenda masing-masing. Pagi ini, setelah menyiapkan sarapan ter-enak di dunia buat mereka, saya kembali mengontrol kesiapan pelaksanaan upacara pengibaran bendera. Jam 8 tepat kami sudah berada di posisi masing-masing. Meski dalam keterbatasan, bukan menjadi alasan buat kami untuk tidak melaksanakan upacara. Tiang bendera dari sepotong bambu telah berdiri di tengah lapangan, meski terlihat ringkih namun kami percaya dia mampu menopang Sang Saka kebanggaan Merah Putih.


Semua telah siap, meski upacara ini sederhana tapi tidak menyurutkan semangat untuk mengiringi Sang Saka Merah Putih. Protokol (MC), pemimpin upacara, pengibar bendera, pembina upacara, dirigen, pembaca doa, pembaca teks proklamasi, serta pasukan upacara telah berdiri di posisi masing-masing menantikan momen "sakral" ini. Meski sederhana tapi semua tetap khidmat mengikuti detik-demi detik upacara ini.


Detik-detik menegangkan  telah terlewati, tegang bercampur haru. Kesederhanan tak menyurutkan tensi keharuan kami, justru keharuan telah mengibarkan bendera Merah Putih semakin terasa dalam bagi kami. Sederhana, jauh dari kemewahan, jauh dari pesta pora, jauh dari hiruk pikuk, jauh dari sorotan kamera media, jauh dari keramaian, namun justru itu yang membuat suasana ini semakin bertambah haru, bangga. Tak terasa bulir air mata menetes di pipi saat menyaksikan Sang Saka Merah Putih perlahan berkibar sambil menyanyikan Indonesia Raya.

Adik-adik kecil tak beranjak dari tempat, mereka telah hadir di tepi lapangan sebelum kami melaksanakan upacara, dengan khidmat mereka juga mengikuti seleuruh rangkaian upacara. Saatnya bergembira dengan mereka. Teman-teman mulai sibuk menyiapkan segala kebutuhan permainan, lari kelereng, makan kerupuk, lari jarum dan sebagainya. Yang unik bagi kami, semua perlombaan dilakukan berpasangan antara adik-adik dusun Toddolimae dan teman-teman JJS. Lomba makan kerupuk misalnya, teman-teman JJS harus memanggul adik-adik agar mereka bisa memakan kerupuk yang digantung agak tinggi. Pada lomba lari kelereng juga demikian, masing-masing tim harus berlari membawa kelereng di atas sendok secara estafet.
Riuh tawa pecah saat melihat kepolosan adik-adik yang digoda dengan kejahilan teman-teman JJS. Tak jarang teman-teman JJS justru malah mengganggu adik-adik yang sementara berlomba hanya untuk memancing mereka tertawa. Tak lengkap rasanya telah mengajak mereka berlomba tanpa memberikan hadiah. Meski sederhana dan alakadarnya, ada kebanggan bagi mereka telah menerima hadiah dari usaha yang mereka lakukan sendiri.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 71, Merdeka!!

No comments: