Tuesday, July 26, 2016

Leang Lonrong

Kawasan wisata alam Leang Lonrong berada di Desa Panaikang, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Untuk sampai ke tempat ini, dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 53 KM ke arah utara (Kabupaten Pangkep). Sekitar 15 KM dari kota Turikale (Ibukota Kabupaten Maros) kita akan menemukan petunjuk ke lokasi Tonasa 1 (Eks pabrik semen Tonasa) di sebelah kanan. Sekitar 4 KM dari jalan trans provinsi kita akan mendapatkan pertigaan sekaligus papan petunjuk "Kawasan Wisata Leang Lonrong" di sebelah kiri. Dari pertigaan tersebut kita masih harus menempus perjalanan sekitar 2,5 KM untuk sampai di Leang Lonrong.

Sebuah rumah panggung dengan halaman yang cukup luas sebagai tempat parkir telah menanti kita di pintu masuk Kawasan Wisata Leang Lonrong.


Leang Lonrong, sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Kabupaten Pangkep umumnya, terlebih yang berdomisili di sekitar Kecamatan Balocci. di hari-hari libur, kawasan ini cukup ramai dikunjungi oleh warga. Di kawasan ini terdapat sebuah goa dengan mulut goa berdiameter sekitar 5-8 meter, dari dalam goa ini meluncur air yang kemudian ditampung ke dalam kolam kecil di depan goa. Air yang keluar dari sela-sela bebatuan tersebut sangat jernih dan dingin, menggoda siapa saja yang melihatnya untuk ingin segera menceburkan diri ke dalamnya.


Sementara di sekitar goa, selain kolam kecil dan beberapa gazebo, juga terdapat sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua sisi tepian sungai kecil aliran dari goa Leang Lonrong, ditambah lagi suasananya yang sejuk karena ditutupi kanopi alam yang terdiri dari pohon-pohon jati. Sementara di sisi timur, utara dan barat dibentengi oleh bukit-bukit karst.


Kondisi tadi ternyata berbanding terbalik dengan kondisi kebersihan kawasan wisata ini. Sampah berserakan dimana-mana, makanan sisa tampak jelas di dasar kolam dan di aliran air dari dalam kolam, botol plastik serta bekas pembungkus makanan lain berserakan, merusak keasrian Leang Lonrong. Memang ada beberapa tong sampah yang disiapkan pengelola, tapi nasibnya tak lebih beruntung, hanya sebagian kecil sampah di dalamnya, itu pun sampah-sampah yang sudah sangat lama.


Untuk masuk ke kawasan Leang Lonrong, pengunjung akan diwajibkan untuk membayar retribusi sebesar Rp.3000 /orang, sepertinya ini adalah retribusi yang masuk ke pemda setempat. mestinya dengan adanya retribusi berarti pengunjung berhak mendapatkan pelayanan atau minimal prasaranan yang memadai, tidak seperti kondisi sekarang yang jorok, tidak ada kamar mandi dan ruang ganti yang layak kecuali sebuah bilik berdinding seng.
Kesimpulan saya, miris melihat kondisi seperti ini. Kenapa pemerintah kita selalu "memandang sebelah mata" aset daerah seperti ini? Bisa dibayangkan bila kawasan ini dikelola dengan baik, biarlah retribusinya agak mahal tapi pelayanan, saran dan prasarananya memadai, tentu pemasukannya juga bisa lebih besar, pengunjung akan lebih ramai dan ekonomi masyarakat sekitar bisa meningkat dari kegiatan pariwisata di Leang Lonrong.

R.A 27072016

No comments: