Friday, June 17, 2016

YANG TERSISA DARI KOTA DUNIA


Makassar.. Hmmm...
Kota metropolitan dengan segala masalahnya, macet, polusi, bising, komplit di kota ini.
Suatu sore di bulan Ramadhan (Juni) 2016, entah apa yang membawa saya terdampar di sebuah tempat di utara Makassar, di pesisir utara Makassar. Saya tidak pernah terpikir bila sebenarnya Makassar masih punya pesisir yang penuh dengan pohon-pohon hijau, hutan mangrove dengan pohon-pohon bakau yang tumbuh subur.



Di sini, saya merasakan "pribadi" Makassar yang berbeda, di sini Makassar lebih ramah, lebih bersahabat dengan lingkungan. Meski hutan mangrove di sini tak selebat dan tak seluas mangrove Tongke-tongke di Sinjai atau mangrove di Margomulyo Balikpapan, tapi setidaknya saya bersyukur Makassar masih menyisakan tempat seperti ini.
Pohon bakau, pohon kayu api-api, lumpur empang, siput laut, burung bangau, aroma laut, semua seakan bahu membahu mempertahankan kealamian lingkungan Lantebung. Mereka masih sama-sama saling menyumbang peran untuk "berperang" melawan geliat kota dunia. Di sini masih ada suara ombak yang sayup terbawa angin laut, di sini masih jelas terlihat canda si burung bangau di dahan bakau, pak nelayan hilir mudik menyiapkan perlengkapan melaut. Di salah satu sudut mangrove ada sebuah pondok kecil mirip kantin yang maaih kosong. Membayangkan betapa nikmatnya menyeruput kopi panas dari pondok ini sambil melepaskan pandangan jauh ke lepas pantai, membebaskan telinga menangkap semua suara, serta merelakan hidung untuk menikmati aroma laut dan lumpur empang.


Selama ini saya mengira bahwa daerah pesisir utara Makassar sudah penuh dengan gudang serta dermaga-dermaga untuk bongkar muat, di sepanjang pantainya mungkin sudah penuh dengan timbunan reklamasi, tapi.. yaaa inilah kenyataannya, Makassar masih menyisakan ini, entah sampai kapan?

Berada di koordinat 5°4'41.78" S, 119°27'58.49" E
Lantebung, Jl. Lantebung, Kelurahan Bira, Kecamatan Tamalanrea

No comments: