Friday, October 2, 2015

DATSUN RISERS EXPEDITION ETAPE MAKASSAR-TORAJA (1)


Setelah melakukan registrasi online tanggal 11 September lalu, akhirnya pada hari Rabu 23 September 2015 dapat kejutan dari panitia “Datsun Risers Expedition” yang mengabarkan bahwa tim kami terpilih menjadi salah satu peserta ekspedisi ini.Datsun Risers Expedition (DRE) adalah perjalanan inspiratif berkeliling Nusantara dengan melibatkan ratusan risers (sebutan bagi peserta DRE) dan konsumen Datsun di Indonesia. 


Ekspedisi ini melewati lebih dari 100 kota di puluhan provinsi di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera. Akan menuntaskan puluhan ribu kilo meter jarak jelajah. Datsun Risers Expedition bukan hanya perjalanan konvoi mobil melintasi banyak kota di Nusantara, ada beberapa rangkaian program yang inspiratif, yang tidak hanya akan memperluas awareness Datsun di Indonesia, tapi juga memberikan pengalaman berbeda bagi peserta dan juga masyarakat yang akan terlibat sepanjang perjalanan. Diantaranya melakukan program sosial, berupa pemberian donasi buku bacaan dan alat-alat tulis kepada ratusan sekolah dan siswa selama perjalanan berlangsung.

Senin 28 September 2015, lima tim peserta “Datsun RisersExpedition” sudah memasuki hotel Horison Makassar untuk briefing and driving adjustment. Dari sekitar 800an orang yang mendaftar di etape ke-tiga (Makassar), akhirnya terpilih 15 orang yang tergabung ke dalam lima tim. Prayogo Prakoso, official DRE menyatakan bahwa RISERS (sebutan bagi peserta DRE) di etape ke tiga ini yang paling variatif berdasarkan kota asal. Tim 1 berasal dari Makassar, Tim 2 adalah srikandi-srikandi dari Semarang dan Jogjakarta, Tim 3 berasal dari kota Bandung, Tim 4 juga adalah Tim wanita yang berasal kota Surabaya, dan yang terakhir teman-teman dari ibukota Jakarta, ada 3 Tim laki-laki dan 2 Tim perempuan. Lima belas Risers ini akan menjelajahi Sulawesi Selatan selama tiga hari menggunakan DATSUN GO+ PANCA, sekaligus merasakan performa produk DATSUN ini dalam perjalanan panjang dengan berbagai macam kondisi medan.

HARI PERTAMA
Setelah mendapatkan penjelasan detail tentang program dan teknis Datsun Risers Expedition, pagi hari Selasa 29 September 2015 para Risers memulai perjalanan dari dealer DATSUN di Jl. Gn. Latimojong. Tujuan pertama adalah salah satu ikon kota Makassar, Pantai Losari.

Tim Datsun Risers Expedition di Pantai Losari

Puas berfoto dan mengambil gambar di kawasan Pantai Losari, perjalanan dilanjutkan ke Sokola Pesisir di Kelurahan Mariso untuk berbagi inspirasi dan sekaligus rangkaian kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) DATSUN dan Datsun Risers Expedition.

Di Sokola Pesisir, para riser ditantang untuk berinteraksi langsung dengan anak didik. Masing-masing tim akan “mengajar” beberapa anak, memberi inspirasi, memberi semangat, berbagi pengalaman, bernyanyi, mendongeng dan berbagai aktifitas lain.

Bernyayi bersama anak-anak Sokola Pesisir

Tim saya (Tim 1) mendapat tugas untuk mendampingi Nurqalbi (6 tahun) dan 5 temannya. Sebagai anak-anak yang tumbuh di kawasan “kumuh” dan padat penduduk kota Makassar, Nurqalbi dan kawan-kawan memang terkesan “liar”, sangat susah membuat mereka duduk teratur apalagi untuk mendengar cerita kami. Untuk mengakalinya, saya mengajak mereka bernyanyi dengan iringan ukulele, sembari Farmy membagikan permen untuk membuat Nurqalby sedikit diam. Kelas kelar, tim dari Datsun Indonesia dan Datsun Risers Expedition tak lupa memberikan bingkisan sebelum meninggalkan Sokola Pesisir, diwakili oleh Indri Hadiwidjaya (Mba Indri).

Foto bersama dengan anak-anak Sokola Pesisir

Perjalanan kami lanjutkan, tujuan berikut adalah Benteng Rotterdam yang terletak di jalan Pasar Ikan. Tim Datsun Risers Expedition memanfaatkan waktu kunjungan yang singkat di benteng yang menjadi saksi kejayaan Makassar tempo dulu ini. Mengunjungi bekas ruang tahanan Pangeran Diponegoro serta museum Lagaligo, membuat takjub para Risers yang umumnya dari Pulau Jawa.
“Benteng Rotterdam atau Benteng Panynyua ini adalah salah satu benteng terbaik peninggalan sejarah Nusantara” ujar Bung Ical selaku Project Officer menjelaskan tentang Benteng Rotterdam. Kunjungan di Benteng Rotterdam ditutup dengan foto bersama.

Jam sudah menunjukkan pukul 11:15 saat iring-iringan konvoi meninggalkan Benteng Rotterdam. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Toraja, tim Datsun Risers Expedition akan singgah makan siang di Rumah Makan Kota Daeng, Sudiang. Menu kuliner khas Makassar seperti Pallu Mara, cumi tumis dan olahan sea food lain sudah tersaji rapi di atas meja panjang. Perut lapar dan tampilan kuliner-kuliner yang sangat menggoda membuat para Risers tak sabar menyantap habis semua makanan yang disiapkan.

Perjalanan dilanjutkan menuju ke Tana Toraja. Jarak tempuh kurang lebih 150 kilometer dan kondisi jalan yang lurus dan berbeton menuju kota Pare-pare dimanfaatkan oleh para Risers untuk merasakan  performa DATSUN GO+ PANCA.  
Saya tak mau ketinggalan menjajal kemampuan mobil dengan mesin 1,2 liter dengan transmisi manual 5 ini. Kesimpulan pertama yang saya dapat adalah kecepatannya cukup impresif untuk ukuran mobil LCGC yang umumnya memiliki performa kurang menjanjikan. Putaran mesin terbaik untuk memacu mobil ini ada pada putaran tengah hingga mendekati redline. Konsumsi bahan bakarnya juga lumayan irit.
Untuk interior, DATSUN GO+ PANCA tidak seperti mobil lain di kelasnya yang terkesan kaku, ada kesan mewah dari lekukan-lekukan desain interiornya. DATSUN GO+ PANCA juga  sudah dilengkapi dengan ECO indicator seperti, dengan fitur ini rasanya untuk mobil dengan harga dibawah 100 juta sudah cukup menjanjikan.

Lima type DATSUN GO+ PANCA tunggangan para Risers

Lepas dari track lurus dan landai Makassar – Pare-pare, kembali kami menjajal performa DATSUN GO+ PANCA pada track berkelok dan naik turun di jalur Pare-pare – Tana Toraja. Tenaga yang dihasilkan memang tidak terlalu besar, mungkin hal ini dikarenakan bobotnya yang ringan, tapi kecepatan yang kami dapat lumayan baik. Bobot yang ringan secara tidak langsung berdampak buruk pada pengendaliannya, dimana gejala body roll mudah timbul di tikungan dalam kecepatan tinggi. Namun hal ini tentu bukan perkara besar, karena sejatinya DATSUN GO+ Panca bukan sebuah mobil yang diperuntukan memacu adrenalin, melainkan efesiensi dalam berkendara. Dengan kecepatan yang stabil, waktu tempuh Makassar – Toraja dapat kami selesaikan dalam waktu kurang lebih 8 (delapan) jam.

Menyusuri jalan kampung di Sa'dan Toraja Utara

Di hotel Misiliana Rantepao Toraja Utara, penari cantik gemulai menyambut kami, tak ketinggalan para penari lelaki yang sesekali berteriak melengking khas teriakan warga Toraja. Hari pertama Datsun Risers Expedition ditutup dengan dinginnya malam Toraja, tak menunggu lama para Risers sudah terbuai indah dalam balutan selimut.


HARI KEDUA
Menempuh perjalanan jauh yang mestinya melelahkan, pasti akan membuat sekujur tubuh pegal, tapi hal tersebut tak kami rasakan saat bangun pagi di hari kedua. Tak ada guratan lelah di wajah para risers, pun keletihan atau badan pegal-pegal, ini dikarenakan jok DATSUN GO+ yang didesain sedemikian rupa sehingga memberi rasa yaman bagi pengendara dan penumpangnya.
Kegiatan pagi diawali dengan sedikit peregangan tubuh setelah sarapan. Dipimpin oleh Bung Ical, kami diajak untuk merasakan sentuhan langsung embun pagi yang masih tersisa di ujung rerumputan. Nikmat sekali pagi ini, hawa segar khas pegunungan di Toraja ditambah senyum ramah para warga yang sesekali melintas di dekat kami membuat pagi ini sangat indah.

Satukan semangat, tepiskan ego, bersama menuju satu cita-cita

Kunjungan pertama tim Datsun Risers Expedition hari kedua dimulai di kawasan wisata Kete’ Kesu’. Kete’ Kesu’ lebih dikenal sebagai objek wisata rumah adat masyarakat Tana Toraja atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tongkonan. Namun sebenarnya terdapat pula makam/kuburan kuno masyarakat Toraja yang lokasinya ada di belakang kompleks rumah Tongkonan tersebut. Didampingi oleh Pak Usman, seorang guide professional dari Rantepao, Risers Datsun Risers Expedition mendapat banyak informasi penting baik tentang Kete’ Kesu’, budaya Tana Toraja sampai ke Tongkonan. Satu hal yang menjadi catatan bagi saya, adalah penamaan Tongkonan bagi rumah adat Toraja. Ternyata tak semua rumah dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau ini disebut dengan Tongkonan, ada syarat-syarat tertentu yang telah ditetapkan oleh adat yang berupa aturan tak tertulis.
Pak Usman menjelaskan, sebuah rumah adat Toraja akan dinamakan sebagai Tongkonan bila di rumah tersebut telah dilaksanakan upacara Rambu Solo sebanyak 5 (lima) kali. Jadi, meskipun di rumah tersebut telah dipotong puluhan bahkan ratusan kerabu (ditandai dengan banyaknya tanduk kerbau) tapi belum sampai 5 kali pelaksanaan Rambu Solo, maka belum pantas disebut sebagai rumah Tongkonan. Rumah tersebut masih dianggap sebagai rumah biasa dan tanduk-tanduk kerbau yang telah dipotong tidak boleh dipasang di tiang deapan Tongkonan sampai pada saat pelaksanaan Rambu Solo ke 5 (lima). Itulah salah satu alasannya kenapa pelaksanaan upacara Rambu Solo selalu diadakan di satu kawasan seperti di sekitar Kete’ Kesu’ ini, bukan di rumah masing-masing orang yang meninggal.

Tongkonan yang dibangun pada tahun 1685

Salah satu kearifan lokal warga Toraja yang masih terjaga ratusan tahun hingga hari ini adalah sifat gotong royong. Hampir semua aktifitas warga Toraja dilakukan secara bersama meski tanpa undangan atau panggilan. Untuk pelaksanaan upacara Rambu Solo saja, persiapannya sudah dimulai dua bulan (bahkan bisa lebih) sebelum hajatan dimulai. Setiap hari selama persiapan tersebut, kerabat, keluarga dekat, keluarga jauh bahkan tetangga yang tanpa pertalian darah pun akan dengan sukarela membantu persiapan. Mereka dengan ikhlas tanpa diminta akan menyisihkan waktunya di sela-sela kesibukan masing-masing. Sebagai ucapan terima kasih, keluarga yang punya hajat akan menyiapkan segala keperluan termasuk urusan perut, mulai dari makanan berat, makanan ringan, kopi/teh sampai rokok. Bayangkan berapa biaya yang akan dikeluarkan selama persiapan tersebut. Belum lagi saat pelaksanaan pesta yang bisa sampai tujuh hari dengan pengeluaran yang extra besar tiap harinya, baik untuk makan minum para tamu atau pun untuk hewan kurban seperti tedong (kerbau) dan babi. Tak heran bila untuk satu upacara Rambu Solo, dana yang harus dikeluarkan oleh keluarga bisa mencapai angka miliaran rupiah bahkan lebih.

Mendengarkan penjelasan dari guide sebelum masuk ke Kete' Kesu'

Apa arti nilai miliaran rupiah ini? Apakah satu bentuk ke-mubadzir-an? Buang-buang uang? Sangat picik pikiran kita bila beranggapan seperti itu. Ini semua adalah bentuk kepatuhan, dedikasi dan pengorbanan buat orang tua yang meninggal. Sebab semua dana yang timbul dari upacara Rambu Solo adalah beban dari anak-anak dan cucu-cucu (yang sudah berkeluarga) secara patungan. Selain itu, hal ini adalah bentuk sedekah warga Toraja, wadah berbagi antar warga. Selebihnya adalah prestise, gengsi dan kebanggaan.
Puas meng-eksplor Kete’ Kesu’, perjalanan tim Datsun RisersExpedition dilanjutkan ke Sa’dan di utara kota Rantepao. Kedatangan kami ke sini adalah atas undangan keluarga Bung Romy (Road Capten DRE) yang kebetulan beristri orang Sa’dan. Nenek mertua istri Bung Romy telah meninggal dunia dan akan diupacarakan bulan Oktober nanti di kawasan Perumahan Adat Galugu Dua, Sa’dan. Di rumah keluarga Bung Romy, peserta mendapatkan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan menyaksikan langsung jasad sang nenek.

Kawasan Wisata Perumahan Adat Galugu Dua

Di kawasan wisata Perumahan Galugu Dua, persiapan upacara Rambu Solo sudah dimulai, beberapa Lantang (tempat sementara yang terbuat dari bambu dan kayu untuk para tamu) telah berdiri, begitun pun dengan Lakkien (menara tempat disemayamkannya jenazah selama prosesi berlangsung). Di Galugu Dua ini juga terdapat sebuah Tongkonan yang berusia ratusan tahun, konon menurut warga setempat Tongkonan tersebut dibangun pada tahun 1685.

Perjalanan kami lanjutkan untuk makan siang, lokasi yang dipilih panitia adalah rumah makan Panorama di Makale. Konsep rumah makan yang berada persisi di tepi areal persawahan, sehingga pengunjung bias santai menyantap makanan sambil menikmati sawah, bukit dan rumah-rumah adat Toraja. Di rumah makan ini juga banyak wisatawan luar negeri yang sedang makan siang, aneka kuliner khas Toraja yang disiapkan oleh pengelola mungkin yang menjadi salah satu daya tarik bagi mereka.

Pukul 14:30, setelah makan siang perjalanan dari rumah makan panorama kami lanjutkan menuju ke kota Watampone tapi sebelumnya akan singgah di beberapa tempat. Konvoi sebanyak 15 kendaraan tim Datsun Risers Expedition yang terdiri dari RC (Road Captain) paling depan untuk membuka jalan, disusul mobil kami Tim 1 dan berurutan ke belakang sampai di mobil Tim 5, kemudian mobil VIP dan support team, melaju membelah siang di kota Makale. Jalan berkelok dan menurun kembali harus dilalui di trans Makale – Enrekang.

Pose dengan latar belakang Gunung Nona

Di tengah perjalanan sebelum memasuki kota Enrekang, tim Datsun Risers Expedition singgah di rumah makan Bukit Indah untuk istirahat sekaligus menikmati pesona Gunung Nona. Gunung Nona adalah sebuah bukit kecil di antara gugusan bukit di kaki Gunung Latimojong. Yang unik dari Gunung Nona selain panorama alam di sekitarnya adalah bentuknya yang menyerupai (maaf) alat reproduksi wanita. Tak heran bila para risers wanita terlihat canggung dan malu-malu saat memandangi rupa Gunung Nona atau warga sekitar menyebutnya Buntu Kabobo.
Konvoi kendaraan kembali melaju rapi di atas aspal hitam trans Toraja Enrekang. Jalan masih berkelok, menurun dan sesekali mendaki. Lima mobil DATSUN GO+ PANCA peserta Datsun Risers Expedition tampak dengan mudah mengimbangi laju mobil Nissan Navara (2500 cc) Road Captain yang membuka jalur di depan.

Tim dokumentasi di atas kendaraan Road Captain

Memasuki kecamatan Maiwa yang merupakan kecamatan terakhir di sebelah barat kabupaten Enrekang, kondisi jalan mulai bersahabat, landai dan sedikit lurus. Rombongan konvoi Datsun Risers Expedition singgah makan malam di kota Pangkajene ibukota kabupaten Sidrap, sebelum melanjutkan sisa perjalanan ke kota Watampone kabupaten Bone.
Hampir tengah malam, rombongan Datsun Risers Expedition tiba di hotel Novena kota Watampone. Rasa ngantuk dan sedikit lelah membuat para risers tak kuat lagi untuk segera berbaring, meluruskan badan dan meregangkan otot.

Watampone, 30 September 2015

1 comment:

ilmudes said...

enaknya mas bisa keliling2 gratis, saya juga mau nih, e tapi daftarnya harus 3 orang ya minimal...