Friday, September 25, 2015

Hari Kedua 30 Hari Jelajah Celebes

Istirahat yang cukup di hotel Gandaria Pare-pare membuat badan kembali bugar pagi ini. Sambil menyeruput segelas teh hangat yang disiapkan oleh pengelola hotel, saya mulai menyusun itinerary untuk hari kedua. Tak banyak yang bisa membantu selama di Pare-pare, tidak ada teman atau seseorang yang bisa meluangkan waktu untuk menemani mengeksplor kota Pare-pare. Akhirnya, setengah hari di Pare-pare akan saya habiskan untuk berkunjung ke kantor cabang Telkomsel dan kantor Dinas Olah raga, Pemuda dan Pariwisata (DinasOPP).
Jam 7 pagi, setelah mengemasi semua barang, motor pun melaju menuju pantai Senggol. Menikmati pagi sambil menyaksikan beberapa warga mengadu peruntungan dengan memancing. Seekor dua ekor ikan pun menggelepar di lantai taman senggol, hasil pancingan warga yang beruntung. Tenang rasanya berada di pantai ini, suasananya yang asri, sepi karena masih pagi dan semilir angin laut pagi yang menyeka wajah, adem.

Tanpa rasa risih saya duduk selonjoran di pinggir jalan menikmati aktifitas warga di sekitar taman senggol. Apa sih yang akan saya kunjungi di Pare-pare dalam waktu setengah hari? Sejenak saya browsing di internet dengan paket data yang diberikan oleh Telkomsel. Hanya sedikit informasi yang saya dapat, bahkan website milik pemerintah kota Pare-pare pun tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Saya pun berinisiatif untuk berkunjung ke di Dinas Pariwisata (di Pare-pare, dinas pariwisata digabung bersama urusan kepemudaan dan olah raga). Setelah mendapatkan alamatnya via foursquare, saya pun meninggalkan pantai senggol menuju ke jalan Jend. Sudirman.


Jam 8 pagi, kantor Dinas OPP masih lengang, hanya tampak beberapa staf yang sedang bersenda gurau, seakan acuh dengan kehadiranku. Tujuan ke kantor Dinas OPP sebenarnya untuk mengisi daftar kunjungan serta meminta informasi tentang destinasi-destinasi wisata yang ada di kota ini. Tapi, hanya daftar kunjungan yang saya dapat, stafnya kurang bersahabat. Mungkin mereka tidak sadar bahwa kehadiran saya bisa membantu mereka  tugas mereka untuk memperkenalkan kota Pare-pare, meski hanya sedikit. Dengan sedikit kecewa saya tinggalkan kantor Dinas OPP Pare-pare.
Setelah makan siang bersama dengan beberapa staf kantor cabang Telkomsel Pare-pare, saya pun pamitan menuju daerah selanjutnya kabupaten Pinrang. Hanya berjarak sekitar 27 KM dari kota Pare-pare, kabupaten Pinrang adalah kabupaten terakhir dari Sulawesi selatan sebelum memasuki propinsi Sulawesi barat. Di tengah perjalanan menuju ke kota Pinrang saya memilih sebuah masjid di tepi sawah sekitar 8 KM sebelum kota Pinrang untuk shalat Jumat.

Di Pinrang, teman-teman dari komunitas Sahabat Kita sudah menunggu. Destinasi wisata yang mereka tawarkan jaraknya lumayan berjauhan, tidak mungkin saya datangi semua dalam waktu yang terbatas. Akhirnya saya memilih untuk berwisata kuliner, yaa menikmati kuliner terkenal dan khas kota Pinrang, itik nasu palekko. Sebuah warung nasu palekko di jalan Landak menjadi pilihan kami. Suasananya yang santai, menikmati menu nasu palekko di atas bale-bale bambu, serasa makan di rumah sendiri. Ini adalah pertama kalinya saya menikmati nasu palekko, yang tertanam di otakku selama ini adalah nasu palekko itu super pedis dan saya bukanlah penikmat rasa pedis. Tapi Warid (Komunitas Sahabat Kita) sebelumnya telah meyakinkan saya bahwa nasu palekko di warung tersebut tidak disajikan dengan rasa pedis, tapi sesuai dengan selera masing-masing konsumen.

Di warung itik nasu palekko inilah saya baru tahu (setelah dijelaskan oleh Warid) bahwa sebenarnya anggapan saya selama ini tentang nasu palekko yang pedis adalah salah. Di warung tersebut, nasu palekko disajikan paket dengan ulekan cabe yang terpisah dari menu utama itik palekko, nah tergantung selera si pembeli, kalau mau pedis tinggal mencampurkan ulekan cabe tersebut ke dalam menu nasu palekko. Warung tersebut sangat ramai, apalagi pada jam-jam makan siang bahkan sampai larut malam, rahasianya adalah pada racikan bumbu si koki palekko.

Yang menarik, jalan Landak seperti pusat jajanan nasu palekko, beberapa warga menyulap kolong rumah mereka menjadi warung. Dan lokasi jalan Landak yang berada di pinggiran kota Pinrang yang sepi ternyata terkalahkan oleh ketenaran menu nasi palekko warganya sehingga pembeli pun dating dari berbagai penjuru kota Pinrang bahkan dari daerah-daerah sekitar seperti Pare-pare dan Sidrap.
Dengan perut yang kekenyangan kami pun menuju ke halaman masjid agung Al-Munawir kota Pinrang. Di sana sudah menunggu adik-adik komunitas Sahabat Kita. Komunitas ini adalah wadah berbagi dan saling bertukar ilmu dan pengalaman kepada adik-adik usia sekolah. Dan kebetulan sore ini saya “ditodong” untuk berbagi pengalaman dan rencana perjalanan 30 Hari Jelajah Celebes.

Pukul 5 sore, setelah berpamitan dengan teman-teman Sahabat Kita, saya pun kembali memacu motor menempuh jarak 67 KM menuju kota Polewali kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Di Polewali, teman-teman dari @Jalan2Seru_Plw dan komunitas Kompa Dansa sudah menunggu bahkan sudah menyiapkan itinerary untuk malam ini. Pertama mereka mengajak ke warkop Todilaling di jalan Todilaling.
Setelah menghabiskan segelas kopi kami menuju ke sekret Madatte Art, kemudian menyaksikan pertunjukan dari maestro kecapi Polewali Bapa’ Lia (Bapak Nur). Apa yang saya dapat dari sang maestro kecapi ini? Selanjutnya apalagi yang kami kunjungi mala mini di Polewali? Tunggu tulisan selanjutnya.

Ditulis di Polewali, 1 Maret 2015, hari ke 3 ekspedisi "30 Hari Jelajah Celebes"

*Lanjut baca "Cerita Dari Tanah Mandar (1)"

No comments: