Friday, September 25, 2015

Cerita Dari Tanah Mandar (2)


Minggu pagi, setelah melewati malam yang berat saat tersesat di bawah air terjun Indo Rennuang, kami pun terbangun untuk menikati apa yang kami perjuangkan semalam, indahnya air terjun Indo Rennuang. Setelah menyeduh kopi hitam, saya pun mengambil posisi di atas sebuah batu di tengah sungai, dari tempatku menyeruput kopi hangat tampak kota Polewali nun jauh di bawah sana, seakan iri dengan diriku yang bisa menikmati alamnya sementara dia harus terus menjalani rutinitas warga kota.
Setelah semua kami packing, saatnya untuk kembali ke kota dan destinasi-destinasi selanjutnya. Di kota Polewali saya bertemu dengan seorang warga, mereka sangat baik, tidak hanya membuatkan kopi panas dan cemilannya, tapi juga menemani saya berdiskusi semua hal tentang Polewali dan Mandar. Sebelumnya, mereka mengajak saya untuk makan siang bersama, kebetulan, karena di air terjun tadi saya Cuma minum kopi secangkir dan mie instant sebungkus.

Diskusi berlanjut, dari soal bahasa-bahasa yang ada di Polewali sampai pelaut-pelaut Mandar dengan Sandeqnya yang perkasa. Saya baru tahu, ternyata di Polewali sendiri ada beberapa bahasa selain bahasa Mandar yang menjadi “Bahasa Nasionalnya”. Di sekitar air terjun Indo Rennuang (dusun Buangin) ada bahasa yang disebut bahasa Pattae, konon adalah akulturasi antara bahas Mandar dan bahasa yang sering digunakan oleh orang Mamasa. Bahasa Pattae lebih banyak digunakan oleh penduduk Polewali yang tinggal di gunung, dan untuk yang tinggal di pesisir menggunakan bahasa Mandar.

Sebenarnya belum puas berdiskusi dengan bapak (lupa Tanya namanya), tapi waktu sudah menunjukkan pukul 13:30, itu berarti kami harus melanjutkan perjalanan ke Tinambung dan Majene. Kembali ditemani oleh penggiat sanggar MADATTE ART, sekarang jumlahnya lebih banyak, 6 orang. Sekalian mereka akan bersilaturrahmi dengan teman-teman sanggar di Tinambung dan Majene. Sebelum meninggalkan kota Polewali, mereka membawa saya ke salah satu lokasi pembuatan minyak kelapa, sebenarnya tidak ada yang beda dengan pembuatan minyak kelapa di tempat-tempat lain. Kelapa tua yang diparut kemudian santannya di masak sampai menghasilkan minyak.

Perjalanan kami lanjutkan menuju ke Campalagian, sebuah mesjid berdiri kokoh tepat di pinggir jalan yang ramai dikunjungi masyarakat yang melintas. Ada juga beberapa mobil yang berhenti kemudian salah seorang penumpangnya memasukkan lipatan uang kertas ke dalam celengan besar yang disiapkan di tepi jalan. Itulah pemandangan setiap saat yang terjadi di Masjid Lapeo. Mesjid tersebut memiliki banyak cerita mistik, mulai dari menaranya yang konon saat didirikan, keempat tiang utama menara mengapung di atas air. Pernah juga pada zaman penjajahan Belanda menara tersebut miring entah karena disebabkan oleh apa, dan berkat doa Imam Lapeo menara tersebut tegak kembali. Di sisi bagian depan masjid ada sebuah makam, yaitu makam imam pertama Masjid Lapeo, di sinilah banyak warga yang singgah untuk berziarah.
Masjid Imam Lapeo
Destinasi selanjutnya adalah kampong Karama di kecamatan Tinambung. Yang pertama kami datangi adalah sanggar seni  Mandar SOSSORANG, di sanggar ini tampak beberapa adik-adik SMU yang sedang belajar bermain CALONG. Calong adalah sejenis alat musik pukul seperti kolintang, namun hanya terdiri dari 4 bilah, bilahnya terdbuat dari bambu pattung yang biasa digunakan sebagai tiang layar perahu sandeq. Untuk ruang resonansinya terbuat dari buah kelapa tua yang dibuka hanya bagian kepala dan isinya (dagingnya). Di sanggar Sossorang ini hampir tiap hari dipenuhi oleh anak-anak sekolah yang ingin belajr bermain calong.

Tak jauh dari sanggar sossorang, hanya terpisah beberapa rumah nampak seorang anak muda membuat miniatur perahu sandeq. Di kolong rumahnya yang tidak terlalu luas digunakan untuk merangkai kayu demi kayu sehingga menjadi miniatur sandeq yang beraneka macam besarnya.
Di belakang rumah pembuat miniatur sandeq terdengar keriuhan, tampaknya beberapa ibu-ibu dan anak perempuan sedang memilin tali kapal. Di sinilah salah satu sentra recycle tali kapal yang sudah tidak dipakai kemudian diolah kembali menjadi tali yang baru. Tali-tali tersebut biasanya untuk tali jangkar atau kebutuhan-kebutuhan lain di kapal.
Calong, alat musik tradisional khas Mandar
Selanjutnya teman-teman mengajak saya untuk berkunjung ke rumah salah seorang warga, masih di Karama tak jauh dari sanggar Sossorang. Di bawah kolong rumah tampak seorang wanita paruh baya sedang menenun, dengan peralatan tenun lengkap dan puluhan gulungan sutera warna warni di sampinngnya. Daerah Karama di kecamatan Tinambung Polewali memang dikenal juga sebagai penghasil sarung sutera tenun. Salah satu motif sarung sutera (Lipa Sabbe) yang sedang dikerjakan sore itu adalah motif Maradiang, yang biasa dipakai oleh kaum bangsawan. Karena keterbatasan waktu saya tidak sempat menggali lebih jauh kenapa kerajinan tenun Lipa Sabbe ini bisa ada di Karama.
Menenun Lipa Sabbe dan membuat tali kapal adalah 2 pekerjaan pokok bagi ibu-ibu dan perempuan muda di Karama. Pekerjaan tersebut sebagai pengisi kekosongan saat mereka menunggu sang suami yang sedang melaut dengan sandeq-nya.

Pukul 5 sore perjalanan kami lanjutkan meninggalkan kampung Karama menuju ke kota Majene. Tak butuh waktu lama, kami sudah memasuki perbatasan Kabupaten Majene. Dari batas Kabupaten terbilang hanya 6 KM lagi kita akan tiba di pusat kota Majene. Sejenak berkeliling menikmati suasana sore kota Mamuju yang berbukit dengan bagian pesisir landai yang minim. Jadi di sisi selatan jalan raya hanya sedikit tanah landai dan langsung berbatasan dengan garis pantai, sedangkan di bagian utara jalan raya adalah bukit-bukit. Sebenarnya dengan posisi yang seperti ini adalah tempat yang sangat pas untuk menikmati sunset di laut, tapi ternyata garis pantai kota Majene menghadap ke selatan.

Teman-teman dari Madatte Art Polewali mengajak saya ke sebuah bukit kecil yang berbatasan dengan garis pantai, tempat tersebut adalah kompleks makam Raja-raja Banggae. Lokasinya berada di atas bukit setinggi kurang lebih 40 meter dari permukaan laut, di sisi selatannya adalah jurang dan di bawah adalah pemukiman warga nelayan, sementara di laut yang tak jauh dari pantai dipenuhi sandeq dengan ukuran bervariasi. Kompleks makam Raja-raja Banggae terdapat 480 makam dengan bentuk dan ukuran yang bervariasi dan kebanyakan makam dibuat secara berundak atau bersusun. Umumnya makam-makam tersebut menggunakan batu padat, batu karang dan balok papan kayu. Dari 480 makam di kompleks tersebut tidak satu pun makam yang punya nama, kita hanya bisa tau bahwa makam-makam tersebut adalah makam para Raja dengan melihat ukuran dan bentuknya tapi kita tidak bisa mendapat informasi bahwa itu adalah makam siapa? Karena tidak adanya nama yang terukir di makam. Dari tempat kami berdiri di kompleks makam Raja-raja Banggae bisa menyaksikan pantai Dato dengan bentangan tebing batu yang berdiri kokoh di belakangnya.
Saat lapar dan lelah setelah melakukan perjalanan seharian, akhirnya ada warga kota Majene yang menawarkan makan malam dan tumpangan menginap malam ini sekaligus akan menjadi guide salam di Majene.

*Lanjut baca "Cerita Dari Tanah Mandar (3)"

Ditulis di Majene, 3 Maret 2014, hari ke 5 ekspedisi "30 Hari Jelajah Celebes"

No comments: