Friday, September 25, 2015

Cerita Dari Tanah Mandar (1)



Melanjutkan cerita yang terputus di hari kedua. Berkunjung ke rumah salah satu maestro kecapi Mandar Bapak Nur atau lebih dikenal dengan panggilan Bapa’ Lia.
Malam itu saya beserta 6 orang teman dari komunitas penggiat seni budaya Mandar sengaja berkunjung ke rumah Bapa’ Lia karena setiap Jumat malam beliau memainkan kecapi di rumahnya. Setelah melewati lorong-lorong sempit yang gelap, sampailah kami di depan sebuah rumah mungil yang sederhana, di sinilah Bapa’ Lia tinggal bersama keluarganya. Sebuah rumah panggung  bertangga kayu layaknya rumah orang-orang Mandar pada umumnya. 
Tanpa canggung kami pun naik melewati 7 anak tangga, di dalam Nampak Bapa’ Lia sedang mempersiapkan “pentasnya”. Dengan setelan kemeja putih dan sarung serta peci hitam di kepala menambah kesan bersahaja Bapa’ Lia. Setelah melewati perkenalan singkat, pertunjukan Pamacco pun dimulai. Pamacco adalah seni permainan kecapi ala Mandar yang disertai dengan puji-pujian kepada penonton wanita. Jadi pada pertunjukan sebenarnya, Pamacco dimainkan di depan penonton wanita, nah puji-pujian atau bahasa kerennya “gombalan” pun dilancarkan sang pemain kecapi. Di tengah-tengah pertunjukan biasanya si penonton wanita akan memberikan saweran di atas wadah kappar (baki). Menurut Bapa’ Lia, pertunjukan Pamacco ini biasanya berlangsung 8 sampai 9 jam, dari jam 8 malam biasanya sampai jam 3 subuh. Yang unik dari kecapi dan pertunjukan Pamacco ini adalah hanya bisa dikeluarkan/diperlihatkan dan dipentaskan pada malam hari. Mengapa hanya malam hari? Bapa’ Lia hanya beralasan “itulah pesan orang tua”.

Puas berbagi cerita dengan Bapa’ Lia, perjalanan malam itu kami lanjutkan  ke jalan Garuda. Di sebuah lapangan yang diterangi lampu pijar tampak beberapa anak muda sedang bermain bulutangkis. Tapi ada yang aneh dengan permainan mereka, yaa.. raket yang mereka pakai bukanlah raket yang biasa digunakan pada permainan bulutangkis pada umumnya. Raketnya terbuat dari sebilah papan (batang kapuk) dengan panjang sekitar 40 CM dan lebar sekitar 20 CM. Perbedaan lain adalah garis lapangan, garis luarnya agak dipersemepit. Selebihnya, sama persis dengan permainan bulutangkis, baik aturan atau pun property lain. Menurut Pak Ardi, salah seorang warga di Jalan Garuda, permainan tersebut dinamakan REDI PAPAN, redi adalah istilah buat raket papan. Permainan ini awalnya dimulai pada tahun 1994, walau beberapa kali hilang dan dimainkan kembali. Permainan redi papan ternyata sudah terkenal dan dimainkan hamper di seluruh tanah Mandar bahkan sampai ke Pinrang. Beberapa kali permainan redi papan diperlombakan baik antar perkumpulan kecamatan bahkan antar kabupaten di Sulawesi Barat.

Perjalanan kami lanjutkan ke sekret MADATTE ART untuk membahas kunjungan pada hari Sabtu. Teman-teman di Polewali rupanya sudah menyiapkan semuanya termasuk list destinasi. Ada 25 destinasi yang ditawarkan, tapi saya hanya memilih beberapa, karena pertimbangan waktu. Malam sabtu saya habiskan di sekret MADATTE ART, beralaskan karpet yang dipinjamkan oleh seorang penggiat komunitas ini.

Sabtu pagi pukul 8, perjalanan kami awali dengan berkunjung ke sentra pembuatan penganan tradisional Polewali di kawasan Basseang di rumah Mama Nua. Asap mengepul dari dapur, kayu bakar yang dipakai memasak mebuat aroma khas dari asap tersebut. Di samping rumah tersedia beberapa bale-bale bamboo yang memang sengaja disiapkan untuk pengerjaan penganan dan juga untuk tamu-tamu yang dating. Kami disambut dengan ramah oleh keluarga Mama Nua, dengan senyum manis kami dipersilakan masuk dab mengambil tempat. Waktu kami datang, kebetulan masih dalam proses pembuatan adonan Jepa dan Apang, jadi dengan leluasa saya bisa melihat langsung tahap demi tahap pembuatan penganan tersebut.

Jepa, adalah salah satu penganan favorit warga Polewali, biasanya disajikan saat pagi hari sebagai menu sarapan. Jepa terbuat dari ubi kayu (ketela) yang diparut kemudian diperas, ampas hasil perasan inilah yang digunakan untuk membuat jepa. Ampas sisa perasan tadi yang sudah dikeringkan dan menjadi tepung kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang setengah matang, tidak tua dan juga tidak muda. Yang menarik, proses pemarutan kelapa masih menggunakan cara tradisional, yaitu memakai parut serut. Sebuah batang kayu kecil didesain sedemikian rupa sehingga bisa menjadi tempat duduk si pemarut, di ujung kayu tersebut dipasang serutan yang terbuat dari besi pipih dan berbentuk bulat, di tepi bulatan dibuat ruas-ruas kecil yang nantinya akan menyerut kelapa. Keunggulan dari serutan kelapa ini adalah tekstur kelapa akan lebih tebal tapi lembut (bukan kelapa tua).

Setelah tercampur dengan rata, adonan jepa tadi kemudian dipanggang menggunakan wadah berbentuk wajan kecil yang terbuat dari tanah liat. Karena dipanggang di atas bara kayu bakar, maka aroma jepa tersebut tercium lebih khas. Tidak membutuhkan waktu lama, hanya hitungan detik jepa pun siap dihidangkan. Ada dua jenis varian jepa, yang pertama adalah tanpa campuran dan rasanya gurih tapi agak tawar, sedang varian yang kedua dengan menggunakan irisan gula merah di tengah 2 lapis lembar jepa. Untuk varian kedua memang dikhususkan untuk menjadi teman kopi atau the hangat saat sarapan pagi, sedang untuk varian yang tawar bisa dikombinasikan dengan lauk seperti ikan bakar, ikan rebus dan lain-lain. Sebagai penutup, mama Ina menyajikan apang yang masih panas karena langsung dari panci kukus. Tekstur apangnya sangat lembut, karena dibuat dari tepung beras dan gula tanpa menggunakan tepung tapioka, sebagai pengembang, mama Ina menggunakan tuak manis, bukan pengembang buatan pabrik. Apang dan teh hangat, sungguh perpaduan sarapan yang pas di pagi hari.
Jepa', kuliner khas Mandar
Destinasi kami berikutnya adalah ke pulau pasi putih dan beberapa pulau di sekitarnya, namun karena ada sedikit kendala maka niat tersebut kami batalkan. Kami pun sepakat untuk ke kawasan agrowisata Biru di Kanang. Seperti yang kita tahu bahwa selain durian Palopo, durian lain yang terkenal adalah durian Polewali. Nah, di Kanang inilah pusat durian Polewali. Di kilo meter 5 sebelum memasuki kota Polewali dari arah Pinrang, di pinggir jalan berjejer penjual durian, langsat dan rambutan. Dari tempat tersebut kami mengikuti sebuah jalan menuju kearah utara menuju ke kawasan agrowisata Biru. Perjalanan ditempuh kurang lebih sejauh 5 KM, di sisi kiri dan kanan jalan tampak berdiri kokoh ratusan pohon durian, langsat dan rambutan.
Kawasan agrowisata biru sebenarnya mirip dengan Latuppa di Palopo, di tengah rindangnya pohon-pohon durian, langsat, rambutan dan tanaman peneduh lain ada sebuah sungai yang mengalir. Sungai kecil dengan bebatuan besar yang memenuhi hampir semua bagian sungai. Jadi pengunjung bisa menikmati durian sambil berendan di sungai. 

Begitu lihat sungai dengan aliran air yang sangat jernih membuat saya tidak sabar untuk menceburkan diri. Agar lebih enak berendam (biar tidak dibilang norak) saya mencari bagian sungai di hilir yang sepi, sebenarnya sih saya mau mencuci pakaian yang sudah 3 hari belum diganti. Bermodal sabun cair saya mencuci celana panjang dan kaos kemudian dijemur di atas batu besar yang seluruh bagian atasnya disinari matahari.

Puas memanjakan diri dengan beberapa biji durian sambil berendam di sungai plus mencuci, kami beranjak menuju ke kota Polewali di sekret MADATTE ART untuk mempersiapkan perlengkapan camping di air terjun Indo Rennuang.

Kembali kami menikmati perjalanan dari agrowisata Biru, memanjakan mata dengan pemandangan sawah yang padinya sudah mulai menguning. Sepanjang mata memandang terlihat hamparan sawah dengan bukit-bukit kecil di belakangnya yang seolah tak ingin terpisah dari bagian pemandangan indah ini, Polewali benar-benar indah.

Setelah semua persiapan beres, pukul 16:30 sore saya bersama 3 teman dari sanggar MADATTE ART memulai perjalanan ke dusun Buangin tempat air terjun Indo Rennuang berada. Setengah perjalanan memang mengasyikkan, kembali kami disuguhi hamparan sawah dengan padi yang menguning. Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 KM, kami mulai memisahkan diri dari jalan raya beraspal melewati jalan beton yang agak sempit. Kondisi jalan pun mulai menanjak dengan kemiringan 5 sampai 45 derajat. Tiba di dusun Buangin ternyata kemiringan jalan semakin ekstrim, suara motor meraung-raung. Lebih-lebih setelah berbelok dari dari jalan beton menuju ke jalan sempit berbeton, dulunya jalan tersebut adalah jalan setapak, tapi setelah mendapat bantuan pemerintah melalui program PNPM Mandiri jalan setapak itu pun kemudian dibeton. Meski telah dibeton namun tanjakan jalan yang kemiringannya sampai 55 derajat tetap membuat motor kami “ngos-ngosan”. Jalan beton sempit dengan tanjakan ekstrim tersebut kami tempuh sekitar 1 KM melewati kebun kakao milik warga. Sekitar 10 menit sampailah kami di rumah terakhir sebelum bertemu dengan air terjun Indo Rennuang. Di kolong rumah panggung inilah pengunjung (yang nekat mengendarai motornya) biasanya memarkir kendaraan unruk selanjutanya melewati jalan setapak sungguhan menuju ke air terjun.

Tepat pukul 18:00 kami sudah hampir sampai di camping area air terjun Indo Rennuang, tapi ternyata ini adalah awal petualangan sesungguhnya. Teman yang jadi guide ternyata agak lupa dengan jalur menuju camping area, jadilah kami tersesat di sekitar air terjun. Satu setengah jam kami berputar-putar mencari jalan, mendaki bahkan sampai memanjat tanah-tanah lepas tanpa pohon sebagai pegangan, dengan kondisi gelap, untung saya bawa 1 headlamp. Jalur yang kami lalui sangat ekstrim, memanjat tanah dan bebatuan yang rapuh dengan kemiringan sampai 70 derajat. Sungguh petualangan yang luar biasa malam itu. 
Singkat cerita akhirnya kami menemukan kembali jalan yang kami lewati saat turun ke dasar air terjun tadi. Salah bseorang teman yang menyusul dari Polewali yang kebetulan tau pasti jalur ke air terjun pun datang menjemput. Tibalah kami di puncak air terjun Indo Rennuang, camping ground yang hanya berkapasitas 6 tenda (tenda 4 orang) sudah penuh dengan tenda adik-adik dari SMK 2 Polewali yang kebetulan juga sedang camping. Kami pun memilih camping ground di seberang sungai di tengah kebun kakao warga. Nyamuk yang menjadi penghuni asli kebun kakao tak lagi kami hiraukan, yang kami butuh adalah matras untuk merebahkan tubuh sekaligus meredakan sedikit rasa pegal di seluruh tubuh. Karena kami hanya bawah 1 tenda yang muat untuk 4 orang, saya pun memutuskan untuk menggantung hammock. Bersantai di atas hammock sambil mengarahkan pandangan jauh ke bawah, kota Polewali dengan ribuan cahaya kerlap kerlip. Jadilah malam yang indah di atas air terjun Indo Rennuang. Air terjun Indo Rennuang terletak di dusun Buangin, berada di atas ketinggian 660 MDPL.

*Lanjut baca "Cerita Dari Tanah Mandar (2)"

Ditulis di Polewali, 2 Maret 2014, Hari ke 4 ekspedisi "30 Hari Jelajah Celebes" 

No comments: