Sunday, September 28, 2014

Sepotong Surga di Teluk Tomini (Bagian 1)

Kamis, 20 Maret 2014, di hari ke 22 perjalanan “Ekspedisi 30 Hari Jelajah Celebes” saya akan memulai petualangan ke salah satu "surga" di jantung Teluk Tomini, Kepulauan Togean. Dari banyak destinasi di Kepulauan Togean, saya menetapkan pilihan ke pulau Kadidiri, salah satu destinasi yang mudah dijangkau dari sekian banyak destinasi pulau di kepulauan Togean.
Jam 10 pagi, perjalanan ke Pulau Kadidiri saya awali dari hotel Victory di kota Ampana. Pagi hari saya sempatkan mencari informasi tentang “Bodi” (kapal kayu penumpang) yang akan berangkat ke pelabuhan Wakai yang katanya lebih cepat dan berangkat dari pelabuhan kota Ampana, dibandingkan naik Fery yang memakan waktu sampai 5 jam dan harus naik dari pelabuhan Uebone yang berjarak sekitar 15 kilometer dari pusat kota Ampana. Ternyata hari ini saya kurang beruntung, tidak ada kapal Bodi yang berangkat ke Wakai dan saya pun terpaksa harus mengejar jadwal keberangkatan Fery jam 10 pagi di Uebone.

 Dermaga fery di Wakai

Jam 10.30 saya tiba di pelabuhan Uebone, sudah tampak kesibukan di ujung dermaga, petugas, penumpang dan buruh angkut hilir mudik mengatur dan mengangkut barang-barang ka atas fery. Sebuah mobil truk 10 roda penuh muatan tampak sudah mengambil posisi di tengah-tengah kapal, sementara sudut lain sudah disesaki dengan barang-barang penumpang.
Setelah membeli tiket seharga Rp.45.000,- saya pun bergegas naik ke fery dan mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan 5 jam pelayaran ke Wakai.
Ombak pagi itu sangat bersahabat, hanya riak-riak kecil yang seolah tersenyum manis mengantar pelayaran kami. Perlahan, fery KMP. Tuna Tomini sudah beranjak membelah laut teluk Tomini yang tenang menuju ke arah timur laut, ke pelabuhan Wakai. 

 Menuju ke Pulau Kadidiri

Pukul 14.30 fery KMP. Teluk Tomini mulai bersandar di dermaga Wakai. Di sekitar dermaga dijejali dengan calon penumpang dan pengantar atau penjemput penumpang, selebihnya diisi oleh warga yang menjajakan aneka macam jualan. Saat ini, di sekitar Wakai sedang musim durian dan Wakai ini dikenal sebagai salah satu penghasil durian di Sulawesi Tengah. Tidak heran, di sepanjang dermaga dipenuhi dengan buah durian, ada yang sudah dikemas dalam box-box kayu, sebagian masih diikat dan selebihnya masih dibiarkan berserakan. Harganya sangat murah, untuk 1 ikat yang berisi 3 buah durian seukuran bola takraw mereka lepas dengan harga Rp. 10.000, harga yang sangat murah dibandingkan saat durian-durian tersebut sudah berada di tangan penjual di kota-kota besar seperti Palu, Poso dan kota-kota lainnya di Sulawesi Tengah.
Di dermaga Wakai, saya mencari perahu yang disiapkan oleh pengelola resort di Pulau Kadidiri. Mereka biasanya menunggu di sekitar dermaga, menunggu tamu yang akan menuju ke resort mereka. Di Pulau Kadidiri rencananya saya akan menginap di Pondok Lestari, sebuah resort milik warga lokal dengan tarif murah dan biasanya menjadi pilihan bagi para backpacker. Tarif yang dikenakan bagi pengunjung di Pondok Lestari relatif murah, harga tersebut sudah termasuk sarapan, makan siang dan makan malam. Setelah mencari beberapa lama akhirnya saya bertemu dengan Pak Arman, beliaulah yang akan mengantar saya ke Pulau Kadidiri, ke Pondok Lestari.

 Pondok Lestari di Pulau Kadidiri

Bila cuaca sedang bersahabat, biasanya pelayaran dengan katinting ke Pulau Kadidiri hanya ditempuh dalam 15 menit, tapi sore ini ombak di teluk Tomini lumayan ganas dan akhirnya perjalanan kami memakan waktu sampai 40 menit. Sepuluh menit pertama pelayaran masih normal, ombak kecil seakan menyapa dengan mesra, 20 menit berikut tampaklah kegarangan ombak teluk Tomini, perahu katinting yang hanya berukuran panjang 7 meter ini pun diombang ambing oleh ombak, beruntunglah Pak Arman sangat gesit mengendalikan katinting, mengikuti alur ombak dan sesekali mematikan mesin agar katinting tidak terhempas ombak besar. Pak Arman betul-betul lihai mengendalikan katinting ini, tampak sekali kalau beliau sudah sangat berpengalaman mengarungi teluk Tomini.
Pukul 18.00 katinting merapat di ujung selatan pantai pulau Kadidiri. Pantai pasir putih yang membentang hanya sekitar 400 meter ini diisi oleh 3 resort, di ujung selatan ada Pondok Lestari, di tengah ada Black Marlin Resort dan di ujung utara ada Kadidiri Paradise Resort. 


Turun dari katinting, saya langsung memesan pondokan di Lestari, tapi sayang semua pondok sudah penuh terisi. Untunglah di Gorontalo kemarin saya bertemu dengan Adnan, salah satu staf Kadidiri Paradise yang merekomendasikan Pondok Lestari untuk saya yang backpacker. Dari Adnan ini pula saya mendapat nama Fuddin (anak pemilik Pondok Lestari) dan Mamat, mereka adalah dive master di Kadidiri Paradise. Setelah tidak mendapatkan kamar di Pondok Lestari saya pun mencari Fuddin, di dermaga Kadidiri Paradise kebetulan Fuddin bersama Mamat dan beberapa tamu lain di Kadidiri Paradise sedang membicarakan rencana diving. Setelah melewati perkenalan singkat, Fuddin pun menawarkan sebuah kamar pegawai Pondok Lestari untuk saya, yaa meskipun sederhana tapi cukuplah bagi saya, dari pada harus mengeluarkan budget 200 sampai 300 ribu di Kadidiri Paradise atau di Black Marlin. Di Kadidiri, pengunjung dikenakan tarif per orang  bukan per kamar, jadi meskipun anda mengambil 1 kamar dan diisi oleh 2 orang maka yang anda bayar adalah untuk 2 orang.

Hans, Bule dari Jerman bersama pengunjung lain saat menuju ke Pulau Una-una 

Malam pertama di kadidiri saya lewatkan dengan bergaul bersama bule-bule yang sudah beberapa hari tinggal di Pondok Lestari. Suasana bersahabat sangat kami rasakan di sini, mereka datang dari berbagai Negara, Inggris, Australia, Rusia, Rumania, Italia, Belanda, Jerman dan Prancis. Ada Hans, turis dari Jerman yang sudah 2 bulan tinggal di Pondok Lestari, pemilik Pondok Lestari memberikan harga khusus buat Hans, karena selain tinggal lama Hans juga menghabiskan waktu di Pondok Lestari dengan membantu pengelola, menyiapkan makanan, mencuci piring, merapikan pondok dan juga berperan sebagai penghubung antara pengelola dan bule-bule penyewa pondok Lestari. Hans cukup gesit, dia juga lumayan fasih berbahasa Indonesia.

 Snorkeling di sekitar Pulau Una-una

Di Pondok Lestari, selain 3 cottage harga 150 dan 6 cottage harga 100, juga ada sebuah kantin berukuran sekitar 10 x 10 meter, di sinilah para pengunjung sering berkumpul dengan pengunjung lain sekedar berkenalan atau berbagi informasi.
Malam itu, laut sangat tenang, bulan setengah jadi memantulkan cahanya di permukaan air. Tidak mau melewatkan suasana indah malam itu, saya bergabung dengan Fuddin yang terlebih dahulu sudah berada di dermaga Kadidiri resort. Fuddin bercerita sejarah dibukanya Pulau Kadidiri ini untuk tujuan wisata. Tahun 1992, pemilik Black Marlin resortlah yang pertama membuka resort ini dengan menyewa tanah milik Pak Akka yang waktu itu masih berupa kebun kelapa. Tahun 1994, pemilik Kadidiri Paradise yang juga mengelola sebuah resort di Ampana juga bermaksud membuka resort di samping Black Marlin sekaligus mengajak Pak Akka untuk membuka cottage untuk pengunjung kelas medium ke bawah. Karena terjadi konflik agama di Poso berimbas pada kunjungan wisatawan ke Kadidiri sehingga tempat ini sempat tutup selama empat tahun, dan kembali beroperasi sekitar tahun 2008 sampai sekarang.

Jembatan ini, pasti selalu membuat rindu

Kembali kami menikmati malam di dermaga Pulau Kadidiri, dengan berbekal petikan gitar kami bernyanyi sambil sesekali berbaring menatap bulan bintang, tenang, hanya ombak kecil, bintang, bulan dan suara lirih kami bernyanyi..
(Bersambung)

[Ditulis di Pulau Kadidiri Kepulauan Togean, 20 Maret 2014, hari ke 22 dari Ekspedisi 30 Hari Jelajah Celebes]

No comments: