Friday, September 5, 2014

Gorontalo, Serambi Medinah

Provinsi yang ke 32 ini terletak di barat dan barat daya Sulawesi Utara. Sebelum menjadi provinsi, Gorontalo adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Utara, kemudian setelah pemekaran wilayah yang berkenaan dengan otonomi daerah maka provinsi Gorontalo kemudian disahkan menjadi sebuah provinsi berdasarkan Undang-undang Nomor 38 Tahun 2000. Kota Gorontalo yang juga menjadi ibukota provinsi ini dipakai sebagai nama provinsinya. Banyak hal menarik yang bisa Anda kunjungi di provinsi termuda kedua (setelah Sulawesi Barat) di Pulau Sulawesi ini.
Sate Tuna
Sudah bosan dengan sate ayam, sate sapi atau sate kambing? Sudah pernah coba sate ikan tuna? Nah, di kawasan Tangga 2000 tepatnya di daerah Pohe, di selatan kota Gorontalo ada sebuah warung yang khusus menyajikan olahan ikan Tuna, namanya Warung Sate Tuna. Tekstur ikan tuna yang lembut dipadu dengan bumbu kacang khas menjadikan sate tuna ini salah satu kuliner yang diburu oleh pelancong yang datang ke kota Gorontalo. Belum lagi sambel Gorontalo yang terkenal pedis, menjadi teman yang pas buat menyantap sate tuna. Selain sate tuna, banyak lagi menu lain yang juga berbahan pokok ikan tuna, juga ada aneka sayur seperti tumis kangkung. Saat memasuki warung, di atas pintu tergantung sebuah bingkai yang berisi tanda tangan dengan nama Kaka Slank. Ternyata vocalist band terkenal itu juga sudah pernah mencicipi nikmatnya sate tuna langsung di warung ini. Jangan datang saat jam makan siang, dijamin anda tidak mendapat tempat atau Anda harus antri menunggu pengunjung lain. Apalagi rata-rata yang makan di warung ini kebanyakan tamu rombongan, jadi sekali datang wahh warungnya penuh.



Benteng Otanaha
Perut kenyang, membuat perjalanan mengintip keindahan Gorontalo menjadi lebih semangat. Perjalanan saya lanjutkan ke salah satu peninggalan Raja Ilato yang dibangun bersama para nahkoda Portugis. Benteng Otanaha terletak di atas sebuah bukit, untuk sampai ke bangunan tertinggi benteng maka kita akan melewati 348 anak tangga dan 4 buah tempat persinggahan. Jumlah anak tangga antara setiap persinggahan tidak sama, menuju ke persinggahan pertama ada 52 anak tangga, menuju ke persinggahan kedua ada 83 anak tangga, menuju ke persinggahan ketiga ada 53 anak tangga, menuju ke persinggahan keempat ada 89 anak tangga dan dari persinggahan keempat menuju ke puncak benteng ada 71 anak tangga.
Menurut sejarah, pada abad ke-15 saat kerajaan Gorontalo dibawah pemerintahan Raja Ilato atau Matolodulakiki bersama permaisurinyaTilangohula (1505-1585), sebuah kapal layar Portugal singgah di pelabuhan Gorontalo karena kehabisan bahan makanan, cuaca laut yang buruk dan gangguan para bajak laut. Nahkoda kapal Portugal tersebut menghadap kepada Raja Ilato untuk menyampaikan keluhan sekaligus meminta pertolongan, dan dari pertemuan mereka akhirnya Raja Ilato bersedia memberikan bantuan dengan kesepakatan sebagai barter maka akan dibangun 3 buah benteng di atas perbukitan Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat (sekarang) dengan maksud untuk memperkuat pertahanan dalam negeri. Akhirnya sekitar tahun 1922 dibangunlah benteng yang dimaksud. Kenyataannya, para nahkoda kapal Portugal tersebut hanya memperalat Raja Ilato saat akan mengusir bajak laut yang sering mengganggu nelayan, mereka pun diusir dari tanah Gorontalo.



Penamaan benteng ini sendiri ternyata ada beberapa versi, yang pertama adalah OTANAHA, Ota artinya Benteng dan Naha adalah nama orang yang menemukan benteng tersebut. Pada sekitar tahun 1585, setelah lama tidak terpakai, benteng ini ditemukan kembali oleh Naha. Naha yang memperistri seorang perempuan bernama Ohihiya kemudian melahirkan dua orang putera yaitu Paha (Pahu) dan Limonu. Pada saat terjadi perang melawan Hemuto atau pemimpin kelompok transmigran dari jalur utara mereka menggunakan benteng ini sebagai tempat bertahan. Saat terjadi pertempuran melawan Hemuto, Naha dan Paha gugur.
Nama yang kedua adalah OTAHIYA, Ota artinya benteng dan Hiya adalah akronim dari nama Ohihiya, istri Naha. Nama yang ketiga adalah ULUPAHU, Ulu adalah akronim dari kata Uwole yang artinya milik dari Pahu (putera Naha). Ulupahu berarti benteng milik Pahu si putera Naha.



Karena berada di ketinggian, dari puncak benteng ini kita bisa melepas pandangan sejauh mungkin, ada danau Limboto di sebelah utara dan kota Gorontalo di sebelah timur. Hembusan angin sepoi-sepoi dan tiada henti membuat kita nyaman berada di tempat ini. Begitu pula hawa sejuk danau Limboto yang dibawa oleh angin semakin membuat kita malas beranjak dari benteng Otanaha ini.

Dermaga dan Museum Pendaratan Soekarno di Danau Limboto
Destinasi ini terletak di Desa Iluta, Kecamatan Batudaa hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Benteng Otanaha. Museum ini awalnya adalah rumah yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda sekitar tahun 1936. Museum ini luasnya 5 x 15 meter, berada tepat di tepi danau Limboto. Pada tahun 1950, Soekarno pertama kali datang ke Gorontalo menggunakan pesawat amphibi dan mendarat di danau Limboto, saat itu kondisi danau Limboto memang masih sangat memungkinkan untuk didarati pesawat jenis amphibi karena debit airnya masih banyak dan belum terjadi pendangkalan seperti saat ini. Kedatangan Soekarno adalah untuk memastikan bahwa Gorontalo masih tetap setia berada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena saat itu terjadi pergolakan di mana-mana, kelompok separatis Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) sedang gencar-gencarnya melakukan aksi pemberontakan di Sulawesi Utara.
Pada tanggal 29 Juni 2002, bangunan museum tersebut direnovasi dan diresmikan oleh Ibu Megawati yang saat itu menjabat sebagai presiden Indonesia. Museum ini didirikan untuk mengajak kita semua mengenang perjuangan Soekarno untuk mempertahankan dan menjaga keutuhan NKRI. Di dalam museum terdapat berbagai dokumentasi kedatangan Presiden pertama Indonesia ke tempat itu, juga terdapat beberapa benda-benda kuno bersejarah.



Tepat di tepi danau, tak jauh dari bangunan museum terdapat dermaga kecil tempat bersandarnya pesawat amphibi yang dipakai oleh Soekarno. Dari tempat ini kita bisa melihat danau Limboto, meski tidak secantik dulu namun keindahan danau ini masih bisa kita rasakan. Pendangkalan di beberapa bagian danau membuat luas danau ini semakin menyempit, di beberapa titik malah sudah menjadi lahan perkebunan dan pemukiman warga.

Menara Keagungan Limboto
Menara ini sering dipelestkan sebagai Eiffel-nya Limboto, karena secara sepintas memang ada kemiripan dengan menara di kota Paris tersebut. Menara ini diresmikan oleh wakil presiden RI Dr. Hamzah Haz, pada tanggal 20 September 2003. Menara ini sendiri dibangun pada tahun 2002 dengan menelan biaya Rp. 8,6 miliar. Tinggi Menara Keagungan adalah 65 meter, terdiri dari 5 lantai dengan fungsi yang berbeda seperti, lantai satu untuk auditorium, lantai dua sebagai restoran, lantai tiga tempat penjualan souvenir, lantai empat hanya ruangan berkapasitas 20 orang dan lantai lima juga hanya ruang dengan kapasitas 10 orang.



Pantai Libuo Indah
Terletak di kecamatan Paguat. Pantai ini berada sekitar 130 KM dari kota Gorontalo menuju ke kota Marisa ibukota Kabupaten Pohuwatu. Pasir putih dan jejeran pohon cemara laut menambah indah suasana kawasan pantai ini. Air laut yang sangat bening, sehingga dari pantai pun kita bisa melihat tubir yang jaraknya hanya sekitar 3-4 meter dari bibir pantai.




Taman Laut Pulau Batila
Tak jauh dari kawasan wisata Pantai Bolihutuo, tepatnya di Kecamatan Paguat. Konon kabarnya keindahan terumbu karang serta aneka jenis biota laut di Taman Laut ini dua kali lipat dari keindahan Taman Laut Bunaken. Perlu keseriusan pemerintah untuk mengelola sekaligus memperkenalkan destinasi ini.


Monumen Pahlawan Nasional Nani Wartabone
Berada tepat di jantung kota Gorontalo, monumen ini dibangun sekitar tahun 1987pada masa pemerintahan Walikotamadya Gorontalo Bapak Drs. A.Nadjamuddin. Bangunan ini terletak di Lapangan Taruna Remaja, Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Nani Wartabone lahir pada tanggal 30 April 1907 dan wafat pada tanggal 3 Januari 1996. Pada hari Jumat tanggal 7 November 2003, beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Monumen Nani Wartabone dibangun untuk menghormati jasa Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nani Wartabone, seorang pejuang dari Gorontalo dan sekaligus mengingatkan masyarakat Gorontalo akan peristiwa bersejarah, perlawanan rakyat Gorontalo pada 23 Januari 1942. Tak jauh dari lokasi monumen, juga diabadikan sebagai nama jalan yaitu jalan 23 Januari.

Kota Jin
Memang belum setenar Kota Jin Wentira di Kebun Kopi Palu, Sulawesi Tengah. Namun, tempat ini bisa menjadi destinasi wisata, apalagi bagi Anda yang penyuka dunia mistis. Terletak di Kota Jin, Ibukota Kecamatan Atinggola, sekitar 90 kilometer arah timur laut kota Gorontalo. Sebenarnya hanya gugusan batu-batu yang membentuk stalagtit dan stalagnit, tapi dipercaya oleh warga sekitar sebagai Istana Jin. Hal tersebut berdasarkan pengakuan beberapa warga yang biasa menfengar atau melihat adanya aktifitas gaib di sekitar lokasi gugusan batu.



Pantai Leato
Terletak di Kelurahan Leato, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Jaraknya sekitar 5 kilometer dari pusat Kota Gorontalo atau dapat ditempuh sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor. Dari pantai ini kita bisa menyaksikan proses tenggelamnya matahari di Teluk Tomini. Pantai yang indah ditambah suasana yang nyaman membuat siapa saja akan betah berlama-lama di pantai Leato ini sambil menyaksikan sunset.

Masih banyak destinasi seru di Gorontalo, tapi waktu kunjungan saya selama 2 hari dalam "Ekspedisi 30 Hari Jelajah Celebes" tidak cukup untuk mengunjungi semua destinasi tersebut. Hanya ini kenang-kenangan catatan perjalanan dari Bumi Serambi Madinah, Gorontalo.

 [11-12 Maret 2014, Hari ke 13 dan 14 perjalanan 30 Hari Jelajah Celebes]


No comments: