Wednesday, May 15, 2019

Kota Jin Wentira, Lalampa Toboli Dan Tugu Khatulistiwa

Perjalanan di hari kesepuluh adalah perjalanan yang untuk pertama kalinya saya rasakan sebagai perjalanan yang penuh dengan petualangan. Bagaimana tidak, saya akan melewati jalur yang sama sekali asing bagi saya, tidak banyak referensi yang saya dapat tentang jalur Trans Sulawesi Pantai Timur Parigi Mautong, Sulawesi Tengah.
Namun, ada dua hal yang membuat saya semangat hari ini, ada dua destinasi yang menjadi salah satu “Top Destination” dalam ekspedisi 30 Hari Jelajah Celebes yaitu KOTA JIN WENTIRA dan TUGU NOL DERAJAT KHATULISTIWA.

Semalam saya mendapat banyak masukan dari teman-teman di Palu via twitter mengenai jalur Kebun Kopi Tawaeli – Toboli, khususnya saran untuk melewati kawasan Kebun Kopi sebelum jam delapan pagi. Kenapa harus sebelum jam delapan pagi? Karena jalur Tawaeli – Toboli di Kebun Kopi masih banyak titik yang sementara dalam tahap perbaikan akibat longsor yang sering terjadi di daerah tersebut. Tadi malam saya sudah mempersiapkan segalanya, termasuk menyetel alarm untuk bangun jam setengah lima subuh. Tapi karena lelah setelah berkeliling kota Palu kemarin membuat tidur saya malam ini sangat berkualitas. Saya pun terbangun jam setengah delapan pagi.

Setelah bersih-bersih, jam delapan pagi saya mulai meninggalkan kota Palu menuju ke utara di daerah Tawaeli, sekitar 18 KM dari pusat kota Palu. Di lampu merah Tawaeli, saya mengambil arah kanan menuju ke Toboli lewat Kebun Kopi. Perjalanan sangat lancar, jalan lengang, pikirku mungkin karena masih pagi jadi pengguna kendaraan yang melintas di Kebun Kopi masih sedikit. Bukit-bukit kecil di sepanjang trans Tawaeli – Toboli sebagian besar sudah terkikis longsor, sepertinya kontur tanah di bukit-bukit tersebut adalah tanah yang labil, sehingga saat musim hujan akan mudah tergerus oleh air. 

Di sekitar titik kilometer 10 saya mulai melihat antrian kendaraan, ternyata di titik inilah terjadi penutupan jalan karena sekitar 200 meter median jalan masih sementara pengerjaan. Ada ratusan kubik tanah yang menutupi jalan, itulah yang sementara disingkirkan oleh beberapa alat berat. Satu jam lebih menunggu pengerjaan jalan saya habiskan dengan nongkrong di salah satu warung. Ada kopi dan jenis minuman lain yang disajikan oleh si penjual di bawah bangunan non permanen, sengaja tidak dibangun permanen karena beliau akan berpindah tempat lagi mengikuti lokasi pengerjaan jalan, memanfaatkan antrian pengguna jalan.
Satu jam lebih menunggu akhirnya tali pembatas yang melintang di tengah jalan sebagai tanda penutupan jalan pun disingkirkan, satu persatu kendaraan mulai melintas dengan hati-hati. Di sebelah kanan ribuan kubik tanah siap menutupi jalan, sementara di sisi kiri jurang dalam menganga siap melahap kendaraan yang jatuh. Sekitar 10 menit meninggalkan titik perbaikan jalan, saya pun tiba di jembatan Wentira. Sebuah jembatan kecil berwarna kuning, ada tugu setinggi 2,5 meter di sisi selatan bagian timur jembatan, di tugu yang juga dicat berwarna kuning itu ada tulisan NGAPA UWENTIRA. Tulisan tersebut adalah bahasa suku Kaili yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “KOTA UWENTIRA”. 

Yaa, menurut kepercayaan sebagian besar warga sekitar Kebun Kopi di sekitar jembatan tersebut ada “Kota  Jin’. Dan salah satu ujung jembatan kecil tersebut dipercayai sebagai gerbang untuk masuk ke dalam kota yang tidak kasat mata, kota Wentira. Kata Wentira sangat popular di kalangan penyuka dan penggiat dunia gaib, kepopulennya tak hanya di Palu atau kota-kota sekitar tapi sampai ke seluruh penjuru tanah air. Bila anda mencari kata WENTIRA di google maka akan muncul beberapa tulisan tentang keanehan-keanehan atau hal-hal gaib lainnya yang kadang susah dipahami oleh logika kita.

Saat tiba di jembatan Wentira, tampak kerumunan orang-orang, beberapa di antaranya berseragam TNI dan polisi, ada pula berseragam polisi hutan, dan tampak pula beberapa orang yang membawa perlengkapan jurnalistik, sementara sebagian besar lainnya kemungkinan warga sekitar, mereka melengkapi diri dengan parang. Karena penasaran, saya pun bergabung dengan mereka, bertanya tentang apa yang terjadi atau apa yang mereka bicarakan. Menurut salah seorang warga, mereka akan naik ke salah satu bukit yang ada di atas jembatan Wentira, di sana makam yang panjangnya 9 meter. Makam yang panjangnya 9 meter? Saya semakin penasaran, saya sebenarnya masih mau menggali informasi tentang makam tersebut tapi warga tadi malah mengajak saya untuk menyaksikannya langsung. Awalnya saya mengira bahwa makam tersebut adalah peninggalan sejarah yang baru ditemukan oleh warga.

Satu persatu rombongan mulai menyusuri sungai kecil berbatu menuju ke arah utara jembatan Wentira. Kesan mistik terasa saat berada semakin dalam di alur sungai kecil ini, beberapa tempat sesaji berwarna kuning berupa miniature rumah menghiasi pinggiran sungai, beberapa di antaranya berisi benda-benda sesajian. Semakin jauh kami masuk, semakin berat medan yang kami lalui, kemiringannya pun bertambah, yang tadinya hanya sekitar 45 derajat mulai meningkat menjadi 60 derajat. Setelah melewati sungai kecil, selanjutnya rombongan menyusuri jalan setapak di dalam hutan yang masih sangat rapat. Medan berat dengan kemiringan sampai 60 derajat membuat saya dan beberapa orang tua termasuk Bapak Kapolsek dan Danramil kecamatan Tanan Tovea yang memimpin rombongan harus singgah beberapa kali untuk mengatur nafas. 

Sekitar setengah jam berjalan dan menempuh sekitar 2 kilometer, akhirnya kami tiba di sebuah puncak bukit. Di sini terdapat beberapa bangunan yang berdiri di bawah sebuah pohon tinggi dan besar, sementara di sekitarnya adalah hutan rimba yang masih asri. Ada 4 bangunan di lokasi tersebut, 3 di antaranya konon adalah makam yang panjangnya 9 meter, makam tersebut dilengkapi dengan atap senga yang masih baru.
Dari apa yang saya lihat dan mendengar pembicaraan rombongan akhirnya saya tahu bahwa lokasi yang kami kunjungi ini adalah pusat kegiatan sebuah sekte terlarang. Bila anda masih ingat peristiwa penggerebekan tempat kelompok sekte di Palu selatan di bawah gunung Gawalise beberapa tahun lalu, maka kejadiannya akan seperti itu, ini adalah penggerebekan warga yang tidak senang dengan kehadiran sekte terlarang ini di kampong mereka. Tapi sayang, kami tidak dapat informasi lengkap tentang sekte tersebut, karena seluruh anggota sekte tidak satu pun berada di lokasi ini. Kejadian selanjutnya sudah bisa saya tebak, warga kemudian menghancurkan dan membakar bangunan-bangunan tersebut.

Penggerebekan pun selesai, rombongan satu persatu mulai meninggalkan tempat tersebut menyisakan asap yang masih mengepul dari bangunan yang dibakar. Tiba kembali di jembatan Wentira, saya bertemu dengan salah satu personil polsek Tanan Tovea, kami bercerita banyak tentang Wentira. Briptu Ian namanya, beliau adalah putra asli Kebun Kopi, lahir dan besar di sebuah dusun yang tak jauh dari jembatan Wentira. Orang yang tepat untuk saya mintai pendapat, cerita atau pengalamannya tentang kepopuleran Kota Jin Wentira.
Menurut Briptu Ian, semua warga di kawasan Kebun Kopi sama-sama meyakini bahwa Kota Jin Wentira memang ada. Di sekitar Wentira ini adalah “kerajaan” Jin terbesar yang ada di Indonesia. Tapi hanya beberapa orang warga yang pernah “diberi” kesempatan untuk berkunjung ke kota tersebut, dan anehnya sebagian besar mereka yang pernah ke kota Jin Wentira akan mengalami gangguan jiwa. Logikanya sih mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada kota modern yang lebih modern dari seluruh kota modern di dunia ini. 

Dari beberapa pendapat ada yang mengatakan bahwa Wentira adalah Atlantis yang hilang, ke mana hilangnya Atlantis? Memang setiap ada ilmuwan yang berspekulasi tentang keberadaan Atlantis akan langsung dibantah oleh ilmuwan lain. Pendapat lain menyertakan sebuah alasan bahwa Atlantis adalah kota dengan peradaban yang sudah sangat maju, dikelilingi oleh gunung-gunung api. Nah, mungkin masuk akal bila selanjutnya ada yang berpendapat bahwa Atlantis itu ada di Indonesia yang dikelilingi oleh gunung-gunung apa yang membentang dari Sumatera, Jawa, Sumbawa dan melingkar hingga ke Sulawesi bagian utara. Nah mungkinkah Atlantis yang hilang itu ada di Wentira yang kemudian sekarang berevolusi menjadi kota yang tak kasat mata? Wallahu a'lam..

Briptu Ian kembali melanjutkan ceritanya, ketika kakeknya meninggal dunia dan dikunjungi oleh orang Kota Jin Wentira. Kakek Briptu Ian adalah seorang Tupu, semacam tetua adat yang sangat dihormati dan dikenal sering berinteraksi dengan penghuni Kota Jin Wentira. Konon saat pemugaran jembatan Wentira yang dahulunya adalah bangunan sisa peninggalan Jepang, segerombolan pasukan berloreng kuning datang menghampiri para pekerja dan menggertak bila tidak menghentikan pekerjaannya maka mereka akan bertindak. Nah, saat itu kakek Briptu Ian lah yang kemudian menjadi mediator, sampai akhirnya jembatan tersebut dipugar dan terpakai hingga kini.

Saat meninggal beberapa tahun lalu, ketika keluarga sedang mengadakan tahlilan malam pertama, 3 buah mobil mewah sejeis limosin tiba-tiba berhenti di depan rumah duka. Dari salah satu limosin turun seorang yang bertubuh tinggi besar dengan perawakan tampan tapi tidak mempunyai garis lekukan di bibir atas, atau bibir atasnya rata, itulah ciri khas penghuni Kota Jin Wentira. Orang tersebut memakai setelan jas mahal dengan dasi berwarna kuning, seperti kepercayaan warga setempat bahwa warna kuning adalah warna khas orang kota Jin Wentira yang melambangkan kemakmuran. Saat orang tersebut turun dari mobil dan langsung masuk ke rumah duka, semua warga yang hadir di rumah duka seketika seperti terhipnotis, hanya bisa melihat jelas dengan mulut yang tertutup rapat tanpa bisa berkomentar atau pun saling tegur. Orang tersebut langsung masuk rumah dan menuju ka samping jenasah, seperti sedang memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Setelah itu dia pun pergi, tapi saat melewati pintu rumah tiba-tiba penampilannya berubah, tak lagi memakai jas mewah tapi berganti menjadi pakaian adat. Barulah setelah 3 mobil limosin itu pergi, warga kemudian saling bertanya, siapa mereka? Ada maksud apa mereka kesini? Dari mana mobil limosin tersebut?? Jangankan di Palu, bahkan di seluruh pulau Sulawesi pun sepertinya tidak ada satu biji pun mobil limosin. Mereka pun sama-sama berkesimpulan bahwa rombongan tersebut adalah utusan dari warga Kota Jin Wentira. Masih banyak lagi cerita tentang interaksi dengan warga Kota Jin Wentira.

Percakapan saya dengan Briptu Ian diakhiri dengan sesi foto bersama. Perjalanan pun saya lanjutkan menuju Toboli, sebuah daerah persinggahan di pertigaan arah ke Sulawesi selatan dan Sulawesi bagian utara. Tak jauh dari simpang tiga Toboli ada plank bertuliskan MAKASSAR 963 KM dan MANADO 1046 KM.

Di sekitar persimpangan Toboli banyak penjual Lalampa Toboli, penganan sejenis gogos kambu atau lemper yang dipanggang, isiannya ada campuran kelapa sangrai dan ikan. Di salah satu warung saya singgah untuk mencoba Lalampa Toboli, harganya lumayan murah, paket 5 ribu terdiri dari 4 buah lalampa.

Perjalanan selanjutnya menyusuri pantai timur mengarah ke utara Sulawesi, sepanjang jalan saya ditemani dengan pemandangan pantai dan laut teluk Tomini. Pantai timur memiliki karakteristik laut dengan perairan yang tenang pikriku, atau mungkin saat ini bukan musim ombak. Sepanjang pantai saya menyaksikan perairan yang tenang, hanya riak kecil yang sesekali muncul untuk mempertegas suasana laut.
Sekitar dua jam perjalanan tibalah saya di Desa Sinei, Kecamatan Tinombo Selatan, di sini berdiri tugu Nol derajat Khatulistiwa. Keberadaannya seolah tak lagi menjadi sesuatu yang istimewa, bahkan warga yang melihat saya mengambil gambar seperti bingung, seolah bertanya “kok begituan difoto??”.
Yaa, tugu khatulistiwa di desa Sinei  ini tak sepopuler yang di Pontianak, tugu ini tak lebih hanya bangunan monumental yang tak punya nilai lagi. Hampir 70 persen bagian bangunannya sudah rusak dan tidak terurus, miris.

Ditulis di Sinei, Kecamatan Tinombo Selatan, Kabupaten Parigi Moutong
8 Maret 2014
(Tulisan ini adalah rangkaian perjalanan 30 Hari Jelajah Celebes, hari ke sepuluh)

1 comment:

dewi said...

Alhamdulillah sy sdh sampai ke uwentira th kmren.beeeuuu.....
Yg trlht org2 yg di tawan uwentira mlhan