Wednesday, January 15, 2014

Semalam Di Muntea Bantaeng

Bantaeng, bercerita tentang kabupaten ini memang tidak ada habisnya, pantainya yang landai, kotanya yang asri, penduduknya yang ramah, tanahnya yang subur, landscapenya yang lengkap, ada perairan, pantai, bukit dan gunung.

Bantaeng adalah salah satu kabupaten yang berada di pesisir selatan propinsi Sulawsei Selatan dengan luas wilayah 395,83 km² atau 39.583 Ha. Kabupaten ini terletak di kaki gunung Lompobattang dengan ketinggian yang beragam antara 0 mdpl – 2,700 mdpl.


Seperti biasa, perjalanan kami lakukan dengan mangendarai sepeda motor, rombongan kali ini berjumlah delapan orang. Pukul 14.30 kami mulai menyusuri jalan trans Makassar-Bulukumba, menembus panas dan macet di sekitar kota Sungguminasa Gowa. Rencananya perjalanan akan kami tempuh dalam waktu tiga jam, tapi sedikit masalah terjadi saat kami berada di perbatasan Takalar-Jeneponto, ban motor salah satu peserta bocor yang memaksa kami singgah di salah satu bengkel.


Kami tiba di Bantaeng sekitar pukul 18.15 setelah menempuh sekitar 125 KM dari Makassar. Setelah shalat maghrib dan istirahat sejenak di cafĂ© “baling-baling” serta sedikit diskusi, perjalanan pun kami lanjutkan menuju camp area kami malam ini, Muntea.

Dari poros Bantaeng-Makassar kami mengambil jalur ke utara kota menyusuri jalan-jalan yang langsung trekking. Inilah salah satu keunikan Bantaeng, wilayah kota di sekitar pesisir saja yang agak landai, begitu lepas dari kota menuju ke utara konturnya sudah bukit kecil, sedang, hingga pegunungan, maklum Bantaeng berada di kaki gunung Lompobattang.


Terhitung sejak meninggalkan kota sampai ke camp area di stasiun transmisi TVRI, kondisi jalan yang kami lewati semuanya trekking dengan sudut kemiringan antara 20-45 derajat, membuat mesin “kuda besi” kami meraung-raung. Sayang sekali perjalanan kami malam hari, jadinya kami tidak bisa melihat pemandangan-pemandangan eksotik di sisi kiri kanan kami. 

15 menit perjalanan dari kota Bantaeng, di sekitar kampung Sinoa, teman-teman berhenti karena melihat pemandangan luar biasa indah di sisi kiri jalan, ribuan cahaya kerlap kelip di bawah kami, yaa itulah view kota Bantaeng dari ketinggian kampung Sinoa. Setengah berkelakar, teman-teman berkomentar “mirip Hongkong yaa??”. Di tempat ini, tepatnya di tepi jalan, kami sempatkan mengambil gambar.


Setengah jam lebih sudah kami jalani, sekitar 20 KM telah kami tempuh, kami tiba di stasiun transmisi TVRI di Muntea. Tempat ini sebenarnya cukup mumpuni buat camping, halamannya luas dan berumput, ada sumber air dan listrik plus sudah ada beberapa batang pohon buat api unggun. Tapi setelah berdiskusi dengan teman-teman lain kami putuskan untuk pindah tempat, alasannya?? Kurang natural hehehe…


Akhirnya kami bergeser dari stasiun transmisi TVRI. Kembali menyusuri dusun-dusun kecil yang sunyi dengan hamparan kebun-kebun sayur mayur warga di sisi kiri kanan jalan. Sekitar 10 menit perjalanan (tentu dengan trekking) dari stasiun transmisi TVRI, akhirnya kami tiba di sebuah punggungan bukit yang agak menjorok keluar, persisi menghadap ke selatan, ke kota Bantaeng. Dari tempat tersebut kami bisa dengan leluasa mengarahkan pandangan sejauh-jauhnya, di bawah sana di tenggara kami ribuan cahaya kecil memancar dari kota Bulukumba, sementara di barat daya sana, meski agak redup tapi kerlip cahaya dari kota Bontosunggu ibukota Jeneponto seolah tidak mau kalah. Sungguh pemandangan luar biasa yang tersaji di hadapan kami saat ini.


Tiga buah tenda sudah berdiri, satu tenda untuk empat orang, satu tenda untuk tiga orang dan satu lagi tenda saya yang ukurannya kecil, jadi saya sendiri di tenda ini. Saat ini kami berada di Kampung Muntea dusun Cidondong, dari tempat kami berdiri berada di 1,365 meter dari permukaan laut, anda bisa membayangkan betapa dinginnya. Sekedar perbandingan, kota Malino di kec. Tinggi moncong kab. Gowa berada di 1,030an meter dari permukaan laut. Belum lagi tiupan angin yang sangat kencang, karena disekitar kami adalah lahan perkebunan, hanya satu dua pohon yang tersisa, itupun yang tinggal hanya bagian atasnya.
Tenda sudah siap, pakaian hangat sudah terpakai, yang kami butuhkan selanjutnya adalah secangkir kopi hangat. Di bawah sinar rembulan yang baru saja muncul dari timur kami menikmati kopi hangat bersama, sungguh suasana malam yang luar biasa. Seiring dengan kemunculan bulan, angin pun mulai mereda, yang terasa sekarang hanya semilir yang membelai ujung dedaunan. Di hadapan kami, jauh di bawah sana, kota Bantaeng dengan ribuan kerlip cahaya seolah mengaskan bahwa mereka bersatu padu menyumbang keindahan. Malam ini kami hanya menikmati malam sampai jam 11, capek, lelah, letih dan ngantuk tak sanggup lagi kami tahan, di tambah cuaca dingin yang menusuk hingga ke tulang. 


Pagi hari kami di sambut dengan pemandangan yang lebih luar biasa lagi, kerlip cahaya yang kami lihat semalam, kini sudah jelas penampakannya, betul-betul indah pemandangan dari tempat kami camping. Tiga kota/kabupaten tampak jelas kami lihat meski jauh di bawah sana.


Setelah menyelesaikan urusan “kampung tengah” dan membereskan semua peralatan, kami pun beranjak menyusuri kebun-kebun warga yang Nampak mulai mongering, hanya beberapa lahan saja yang terisi tanaman, maklum hampir di semua wilayah kabupaten Bantaeng terkena imbas musim kemarau yang panjang. Dari sekian banyak lahan yang kami sambangi, ada beberapa lahan yang terisi dengan tanaman apple dan strawberry, memang kedua komoditi ini menjadi salah satu icon kabupaten bantaeng.


Puas berkeliling, siang hari kami memutuskan kembali ke kota Bantaeng. Perjalanan terasa ringan, tidak ada lagi tanjakan seperti waktu kami datang semalam. Bahkan di beberapa jalur kami mematikan mesin dan meluncurkan kendaraan, layaknya sedang mengendarai sepeda.
Perjalanan kami sudahi di kota Bantaeng, selanjutnya harus kembali ke Makassar menempuh jarak sekitar 125 km, banyak cerita yang tak mungkin kami tuangkan semua dalam tulisan ini. Kami hanya berharap suatu saat nanti kami akan kembali kesini.

Ditulis di Makassar, 16 Oktober 2012

1 comment:

muhammad akbar said...

pemandangannya keren, saya sempat melewati tempat ini ketika menyusuri jalan menuju Malakaji via Bantaeng.
Bisa nih untuk datang ngecamp dsini sambil melihat pemandangan malam harinya.

Salam blogger
www.indonesianholic.com