Wednesday, January 8, 2014

Kampung Berua Yang Bersahaja

Waktu kecil saya selalu berhayal punya rumah di tengah-tengah sawah yang dikelilingi oleh sungai dan bukit. Setiap pelajaran prakarya menggambar, saya selalu menggambar pemandangan yang menggambarkan hayalan tersebut, sebuah pondok kecil di tengah sawah yang dikelilingi oleh barisan bukit dan sungai kecil.
Hayalan masa kecil saya ternyata terwujud saat memasuki Kampung Berua di Desa Salenrang Kecamatan Bontoa Kabupaten Maros.
Kampung Berua adalah sebuah perkampungan yang terisolir, karena letaknya jauh di tengah-tengah bukit-bukit batu di kawasan karst, di uj7ng utara desa Salenrang. Untuk sampai ke sana hanya bisa diakses lewat sungai Pute dari Kampung Rammang-rammang. Namun justru inilah keunikan Kampung Berua, karena letaknya yang terisolir maka suasana pedesaan terasa sangat kental bila berada di sini, jangan harap anda akan melihat atau bahkan mendengar suara kendaraan kecuali suara deru mesin perahu yang sesekali melintas di sungai Pute. Damai, hanya suara semilir angin yang sesekali ditimpali oleh kokok ayam dari salah satu rumah warga, selebihnya? Biarkan hayalan anda terbang jauh..
Kampung Berua adalah sebuah perkampungan kecil, terhitung hanya ada sekitar 13 rumah yang dikelilingi oleh sawah dan tambak serta gugusan bukit batu kokoh di belakangnya yang seolah membentengi Kampung Berua dari dunia luar. 

Dermaga Rammang-rammang

Siang itu saya bertemu dengan Daeng Beta, beliau adalah tokoh masyarakat di Kampung Berua. Berkat Dg. Beta Kampung Berua sedikit demi sedikit mulai ditata, karena beliau mulai sadar bahwa kampung mereka adalah asset yang menjadi daerah tujuan wisata, meski tak harus melibatkan pemerintah. Sebuah podokan kecil lengkap dengan bale-bale terpasang rapi di tengah-tengah tambak di bawah pohon kelapa, tak lupa Dg. Beta menyediakan sebuah tong sampah yang dibuat dari bambu. Sementara di tepi sungai, Dg. Beta juga sudah membuat dermaga kecil yang dirangkai dari beberapa batang bambu. 


Menyusuri Sungai Pute

Berada di Kampung Berua itu seakan hanya bonus bagiku, petualangan sebenarnya ada di saat perjalanan menuju ke Kampung Berua. Satu-satunya akses menuju kampung tersebut adalah menyusuri sungai Salo’ Pute dari Rammang-rammang. Dengan menyewa perahu warga yang biasanya menunggu di bawah jembatan Rammang-rammang, anda akan dibawa berpetualang laksana di Halong Bay. Cukup dengan menyewa perahu berkapasitas hingga 10 orang sebesar Rp. 150,000 sampai Rp. 200,000 (tergantung nego). Mahal? Yap, mungkin sebagian orang akan bilang ini mahal, tapi jangan langsung mengambil kesimpulan seperti itu, pertama perjalanan melewati sungai Pute yang medannya berat karena kadang di tengah sungai tiba-tiba ada batu yang muncul dari dasar air yang mungkin tak terlihat oleh kita, belum lagi sungai yang berkelok-kelok, intinya untuk membawa perahu menyusuri sungai Pute butuh pengalaman dan keterampilan yang ekstra! Alasan kedua, tentu karena pemandangan yang disajikan selama perjalanan. Nah, setelah melewati petualangan menyusuri sungai Pute dan berkeliling di Kampung Berua, barulah anda akan berkesimpulan bahwa biaya tersebut sangatlah murah.




Damainya Kampung Berua

Kembali ke Kampung Berua, untuk melengkapi kunjungan di sini, sebaiknya anda menginap, rasakan betapa damainya Kampung Berua. Memang di Kampung Berua tidak ada resort, penginapan atau semacamnya, namun Dg. Beta bisa menyediakan rumahnya atau rumah warga lain untuk menginap. Bisa juga anda bawa perlengkapan camping, karena banyak tempat menarik untuk camping di sekitar Kampung Berua. Nah bagi anda yang tidak bawa perlengkapan camping, bisa juga menginap di bale-bale buatan Dg. Beta tepat di tengah-tengah tambak, masalah biaya langsung nego dengan Dg. Beta, yang pasti sangat terjangkau.
Sore itu hujan rintik tiba-tiba datang saat saya menuju dermaga di sungai Pute, seakan tau betapa beratnya saya beranjak dari Kampung Berua, kampung yang bersahaja..

Info:
Butuh perahu, guide atau keperluan selama di Kampung Berua, boleh telpon ke Daeng Beta 082348519743

Makassar, 8 Januari 2014

No comments: