Friday, January 17, 2014

Benteng Rotterdam, Benteng Panynyua, Benteng Ujung Pandang

Salah satu ikon sejarah kota Makassar adalah Benteng Rotterdam. Benteng Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) yang sekarang lebih dikenal dikenal dengan nama Benteng Makassar.
Terletak di jalan Ujung Pandang, benteng ini adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo.
 
Benteng Rotterdam dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa’risi’ Kallonna. Awal dibangunnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas dari Pegunungan Karst di daerah Maros. Bila dilihat dari atas bentuk fisik dari benteng ini berbentuk seperti seekor penyu (panynyu) yang seolah merangkak menuju ke lautan di sebelah baratnya. Dari segi filosofi, bentuk penyu ini sebagai symbol bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut, begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang mampu berjaya di daratan maupun di lautan.


Pada tahun 1667, kerajaan Gowa-Tallo menandatangai perjanjian Bungayya yang salah satu isi perjanjiannya adalah mewajibkan kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda, pada saat Belanda menempati benteng ini dan mengganti nama Benteng Ujung Pandang menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman yang waktu itu menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda, Rotterdam. Benteng ini kemudian difungsikan sebagai gudang penampungan rempah-rempah.

Didalam kompleks Benteng Rotterdamterdapat 13 bangunan yang masih berdiri kokoh, salah satunya adalah Museum La Galigo yang didalamnya banyak terdapat referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Selatan. Selain itu, terdapat juga tempat penahanan Pangeran Diponegoro pada tahun 1834 oleh Belanda.


Pada tahun 2010 Benteng Rotterdam direvitalisasi dengan menambahkan sebuah taman kota di bagian selatan dengan menggunakan dana APBN 2010 sekitar Rp 8,9 miliar. Sebuah Kanal berukuran besar juga terbentang dari barat ke timur menambah keindahan sisi selatan benteng.

Fort Rotterdam adalah salah satu dari sekian banyak benteng yang dibangun pada masa Kerajaan Gowa, sebagai pengawal dari benteng induk Somba Opu. Benteng-benteng pengawal lainnya seperti Benteng Kale Gowa, Benteng Barombong, Benteng Garassi, Benteng Panakkukang, Benteng Mangara Bombang, dan Benteng Ana' Gowa.


Kini, Benteng Rotterdam menjadi salah satu destinasi wisata paling popular di Makassar, baik bagi wisatawan asing maupun wisatawan local. Tak kurang dari seratusan orang berkunjung ke benteng ini setiap harinya. Di malam hari, di sekitar benteng ini sangat ramai oleh aktivitas warga Makassar menikmati malam. Ada food court besar di depan benteng, di bagian depan benteng agak ke selatan berjejer tenda-tenda yang menjajakan aneka makanan dan minuman, di sisi utara benteng juga berjejer tenda dengan menu air kelapa muda.
Inilah bukti sejarah yang telah berpindah tangan dari generasi ke generasi. Disadur dari berbagai sumber

Ditulis di Makassar, 14 Agustus 2012

1 comment:

Adityar said...

Wow, baru tahu kalau Fort Rotterdam ini filosifinya kayak begitu. Keren.
By the way, saya selalu suka kalau jalan-jalan ke sana, sayangnya banyak alay yang suka merusak, terutama dinding-dindingnya banyak coretan di sana-sini. Sayang sekali.