Wednesday, November 6, 2013

Pulau Lae-lae, Sejarah, Pasir Putih Dan Kambingnya Yang Unik

Pulau Lae-lae, bagi anda yang bermukim di kota Makassar dan sekitarnya pasti tidak asing lagi dengan nama pulau ini.
Setiap melintas di sekitar anjungan Pantai Losari dan melihat ke laut lepas, maka pulau yang pertama anda lihat adalah Pulau Lae-lae. Meski mungkin tiap hari anda melihatnya, tapi pernah kah anda ke sana? Belum? Sudah tepat bila anda membaca tulisan ini…

Pulau Lae-lae adalah sebuah pulau kecil yang tepat berada di sebelah barat kota Makassar, merupakan salah satu pulau dalam gugusan pulau atau Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Pulau Lae-lae termasuk dalam wilayah Kelurahan Lae-lae, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar. Pulau ini dihuni oleh sekitar  400 keluarga atau sekitar 2000 jiwa yang membangun pemukiman mereka di atas daratan seluas kurang lebih 8,9 Hektar. Konon menurut cerita warga, Pulau Lae-lae ini adalah bekas camp pertahanan tentara Jepang, bahkan dahulu ada terowongan bawah laut yang menghubungkan Pulau Lae-lae dengan Benteng Rotterdam. Puing-puing sisa peninggalan tentara Jepang tersebut masih bisa kita saksikan di beberapa titik di antara rumah-rumah warga.

Pulau Lae-lae dapat diakses menggunakan perahu penyeberangan yang tiap hari hilir mudik menyeberangkan penumpang melalui 2 dermaga utama yaitu dermaga Benteng Panynyua (depan Fort Rotterdam) dan dermaga Kayu Bangkoa di jalan Pasar Ikan no. 28. Biaya penyeberangannya pun terbilang murah, hanya Rp. 5000 per sekali jalan atau Rp. 10.000 pergi pulang. Tarif tersebut adalah tarif umum bila bersama rombongan atau penumpang lain, tapi kalau bosan menunggu sampai perahu penuh, anda boleh menyewa perahu “kelas VIP” dengan ketentuan membayar 2 kali lipat dari harga umum dan minimal 5 orang penumpang. Perjalanan ke Pulau Lae-lae dapat ditempuh antara 5 – 15 menit tergantung kondisi ombak dan kekuatan mesin perahu.

Di Pulau ini anda bisa menikmati hamparan pasir putih di tanggul sebelah utara pulau, sementara di sisi selatan pulau anda bisa menyaksikan aktifitas dari warga Pulau Lae-lae yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Rumah-rumah yang tersusun rapi membentuk blok-blok dan jalan paving block kecil yang mengitari seluruh pulau adalah ciri khas unik dari perkampungan di Pulau Lae-lae. Di ujung selatan terdapat kuburan tua yang konon adalah seorang pedagang keturunan Tionghoa Arab yang tenggelam di sekitar pulau ini, nah dari peristiwa tenggelamnya itulah sehingga konon menjadi asal muasal penamaan Pulau Lae-lae. 

Menurut cerita dari Daeng Leo, salah seorang nelayan yang tinggal di Pulau Lae-lae, dahulu ada seorang pedagang keturunan Tionghoa Arab yang tenggelam bersama perahunya saat melintas di sekitar pulau ini, saat tenggelam beliau berteriak-teriak minta tolong kepada seorang nelayan yang kebetulan juga melintas di sekitar pulau dengan teriakan “lae.. lae.. lae..” yang konon maksudnya adalah “kemari.. kemari.. kemari”. Singkat cerita si nelayan pun mendengar teriakan si korban tenggelam, menolongnya  dan membawa ke daratan terdekat (Pulau Lae-lae), namun karena kondisinya yang sudah sangat lemah akhirnya beliau meninggal. Sang nelayan yang menolongnya pun menguburkannya di pulau kosong yang dahulu hanya ditumbuhi oleh pohon pandan. Sebagai bentuk penghormatan maka dinamakanlah pulau kosong tersebut dengan nama Lae-lae, yaitu kata-kata yang diteriakkan waktu beliau tenggelam dan minta tolong, karena hanya kata-kata itu yang sempat didengar oleh sang nelayan. Begitulah asal muasal nama Lae-lae menurut cerita Daeng Leo. 

Yang menjadi tujuan wisata umum di Pulau Lae-lae adalah pantai pasir putih di sebelah utara pulau. Di sini terdapat tanggul penahan ombak sepanjang kurang lebih 500 meter. Dari tanggul ini terbentuklah sedimentasi pasir dan pecahan karang yang terbawa arus air laut sehingga membentuk hamparan pasir putih. Di sekitar pulau juga banyak terumbu karang, tapi kondisinya kurang bagus lagi karena tingginya tingkat sedimentasi dan eutrofikasi yang berasal dari massa daratan utama atau daerah inshore. 

Di sekitar tanggul banyak terdapat gazebo-gazebo atau bale-bale bambu yang disewakan bagi pengunjung, tarifnya bervariasi antara 30 – 40 ribu sampai puas. Yang kurang adalah pusat jajanan, hanya ada beberapa toko kecil yang menjual kebutuhan umum, warung makan agak kurang, jadi bila berkunjung ke Pulau Lae-lae sebaiknya bawa bekal dari rumah atau singgah belanja di warung-warung sekitar dermaga Kayu bangkoa. 

Kondisi pantai dan tanggulnya juga terkesan kotor, itu karena tidak ada pengelola resmi yang membersihkan pantai tersebut. Sampah-sampah plastik yang terbawa ombak atau dibuang oleh pengunjung dan warga bertebaran di mana-mana, bahkan sampai di dasar laut, mengurangi kecantikan pantai Pulau Lae-lae. Tapi rasa kecewa karena sampah tersebut akan terobati manakala anda menyaksikan sunset di tepi pantai. Semburat warna jingga sangat jelas menyeruak di balik awan senja, sungguh sangat cantik. Siapa pun yang menyaksikannya pasti tidak akan rela meninggalkan momen-momen saat matahari tenggelam tersebut.

Satu lagi yang unik di Pulau Lae-lae, ratusan ekor kambing yang sangat jinak dan dilepas bebas oleh warga. Kambing? Di Pulau Lae-lae kan tidak ada rumput? Betul! Nah itulah keunikannya, kambing-kambing tersebut bisa survive menyesuaikan lidah mereka dengan makanan-makanan yang tersedia di pulau. Jadi jangan heran bila melihat ada kambing yang memakan nasi atau sisa-sisa makanan pengunjung, itu sih masih masuk akal, nah pernah melihat kambing makan kertas? Berkunjunglah ke Pulau Lae-lae.. 

Foto oleh: Tislam Masykur

1 comment: