Saturday, October 5, 2013

Kisah Pilu Di Kampung Savana

Bagi yang pernah berkunjung ke Kampung Savana pasti sudah tau kondisi warga di sana.
Hidup dengan segala keterbatasan, gubuk reyot, tidak ada sumber air bersih, listrik numpang di rumah warga perumahan terdekat, anak-anak putus sekolah dan harus ikut orang tua memulung. Itulah sekilas kondisi Kampung Savana.

Tapi tahu kah anda, ada satu kisah miris yang kami temui di sana, sebuah sisi lain dari Kampung savana. Sabtu sore 5 Oktober 2013, seperti biasa saya bersama teman-teman menemani adik-adik warga Kampung Savana untuk belajar di bawah tenda darurat. Program belajar bagi adik-adik Kampung Savana yang putus sekolah, yang kami prakarsai bersama teman-teman @Jalan2Seru _Mks dan beberapa komunitas serta donatur. Sore itu saya dan beberapa teman sempat terhenyak mendengar penuturan langsung dari Daeng Bunga, seorang nenek berumur sekitar 70 tahun (beliau pun tidak tahu pasti berapa umurnya).


 Daeng Bunga beserta cucu dengan gubuknya (Foto: Tislam Masykur)

Daeng Bunga, tinggal di sebuah gubuk tua tepat di samping kelas darurat. Beliau bersama anak perempuannya Wati dan 2 cucu (anak dari wati) yaitu Susi 4 tahun dan Sisilia 8 tahun sudah tinggal di gubuk tersebut saat direlokasi dari Jalan Jipang beberapa tahun lalu. Selama ini (menurut cerita Daeng Bunga) mereka berempat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mengandalkan Wati. Namun beberapa bulan lalu, entah dengan ajakan dari siapa atau mungkin karena inisiatif sendiri, Wati nekad merantau ke Balikpapan. Nah di sinilah awal dari cerita miris ini, sebelum pergi, Wati meminjam uang sebesar Rp. 2,000,000,- ke salah seorang warga untuk bekal merantau ke Balikpapan. Waktu meminjam uang, mungkin ada perjanjian tidak tertulis antara kedua pihak, yang kemungkinan salah satu isinya adalah “bila tidak mengembalikan uang tersebut dalam tempo yang disepakati maka gubuk mereka yang jadi jaminan”.

Dan inilah yang terjadi sekarang, malam ini (5 Oktober 2013) adalah malam ke 6 Daeng Bunga dan kedua cucunya tidur di teras gubuk karena gubuk mereka “disegel” sebagai jaminan oleh si pemilik uang.

Daeng Bunga, Susi dan Sisilia tidak boleh masuk atau pun mengambil barang mereka di dalam gubuk. Semua aktifitas makan, tidur, memasak dan sebagainya dilakukan di teras atau di kolong gubuk. Pintu gubuk di kunci rapat dengan rantai dan gembok besar. Belum lagi sesekali si pemilik uang datang mengontrol mereka, bukan untuk memberikan keringanan atau member simpati. Si pemilik uang malah marah-marah sambil terus membatasi ruang gerak dari Daeng Bunga dan kedua cucunya.

 Di sinilah mereka bertiga tidur, terhitung dari 30 September lalu (Foto: Tislam Masykur)

Kini, dengan apa Daeng Bunga dan kedua cucu perempuannya menyambung hidup dan menjalani hari-hari selanjutnya? Sedangkan Wati yang selama ini menjadi tumpuan mereka bertiga sudah beberapa bulan meninggalkan mereka, bahkan meninggalkan masalah seperti ini. Mau meminta bantuan ke warga lain? Bukankah kondisi mereka sama?.


Daeng Bunga, Susi dan Sisilia (Foto: Tislam Masykur)

Sampai kapan Daeng Bunga, Suci dan Sisilia harus tidur di teras rumah menahan dingin? Sampai Wati kembali menebus uang Rp. 2,000,000,-? Iya! Tapi kapan?? Sampai saat ini, jangankan kiriman uang, kabar dari Wati pun tak pernah sampai.

1 comment:

Anonymous said...

perlu diperjelas atau ditelusuri dulu keadaan si peminjam uang ... jngn sampe kesannya kita men-justifikasi dengan kemungkinan2...memang membiarkan daeng bunga dan kedua cucux tersebut kelewat batas...namun mslh piutang seperti ini cukup kompleks...klo qt pake bahasa "kemungkinan", mgkn sj mmg benar peminjam uang ini tidak berhatinurani sprt yg coba anda bahasakan..atau jg mungkin dia meminjamkan krn iba pd awalx nmn diujung kesabaran si pemilik uang ini jg sangat perlu uang..kita tdk tahu...di lingkungan sprti itu menjd malaikat cukup sulit..kadang niat baik akan berbalik menjadi keburukan saat kondisi memaksa kita...kalo anda pernah hidup dilingkungan seperti itu anda (harusnya) tdk akan mau menggunakan bahasa "kemungkinan".

salam