Thursday, July 19, 2012

Morowali-Sorowako, Mutiara Di Timur Sulawesi

Perjalanan saya kali ini adalah ke sebuah daerah yang sama sekali masih asing bagi saya, mendengar namanya saja hanya beberapa kali, bahkan saya tidak tahu titik koordinat atau lokasi daerah ini (maklum perjalanan saya tiba-tiba tanpa rencana, jadi belum sempat browsing cari tahu tentang daerah ini).
Kabupaten Morowali, sebuah kabupaten hasil pemekaran yang berada di pesisir timur pulau Sulawesi tepatnya berada di propinsi Sulawesi Tengah.
Tanggal 6 Juni 2011 perjalanan saya mulai dari pangkalan bus Scania di jalan Urip. S Makassar, tepat pukul 20.00 malam bus yang berpenumpang 30 orang mulai melaju membelah malam Makassar. Dinginnya AC dan bayangan akan perjalanan yang jauh membuat pilihan saya jatuh untuk tidur lebih awal meski jam baru menunjukaan pukul 20.30

Pukul 5 subuh bis berhenti di sebuah daerah, setelah melihat plan di depan mesjid, saya baru tahu kalau kami berada di desa Burau, beberapa kilo meter dari kota Wotu. Setelah shalat shubuh perjalanan pun kami lanjutkan, dan tidur pun saya lanjutkan.
Pukul 8 pagi kami sudah tiba di terminal bis kota Sorowako, perut kosong selama 10 jam perjalanan membuat saya wajib mencari pengisi perut. Coto makassar 1 mangkuk + ketupat 3 buah cukup jadi sarapan pagi ini.

Kembali ke mobil jemputan yang disiapkan oleh pemerintah kabupaten Morowali, menyusuri jalan-jalan kecil di kota Sorowako yang hampir dipenuhi dengan tanah merah, pemandangan khas kota pertambangan. Sekitar 10 menit kami sudah sampai di deramaga penyeberangan danau Matano. Jangan membayangkan dermaga-dermaga penyeberangan di kota-kota besar, dermaga di sini hanya melayani kapal kecil atau lebih pantas disebut perahu dengan muatan yang tak boleh lebih dari 2 buah mobil mini bus.

15 menit kami berada di atas danau Matano, danau terdalam di Indonesia dan salah satu danau terdalam di dunia dengan kedalaman sekitar 500 meter, 200 meter di antaranya berada di bawah permukaan laut. Selanjutnya kami bersandar di dermaga Nuha. Dari dermaga ini kami langsung dihadapkan dengan medan jalan berbukit terjal dan berbatu. Sekitar 20 menit perjalanan dengan kondisi mobil terseok-seok akhirnya kami melintas di perbatasan propinsi Sulawesi selatan dan Sulawesi tengah. Batas propinsi yang sangat sederhana, tak lebih mewah dari gapura perbatasan kecematan-kecamatan di daerah lain.

Untuk sampai ke kota Bungku ibukota kabupaten Morowali masih memerlukan jarak tempuh sekitar 5 jam dari perbatasan propinsi, tentu dengan kondisi jalan yang hampir 50% rusak.
Sampai di kota Bungku, kami beristirahat di salah satu mess di rumah jabatan Bupati Morowali. kesan pertama saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini adalah PANAS dan GERAH.

* * *

Menghabiskan waktu 3 hari di Morowali dengan urusan pekerjaan, tidak ada yang istimewa dari kota ini, mungkin karena saya tidak sempat berkeliling ke tempat-tempat lain. Setelah menyelesaikan semua urusan, kami kembali menyusuri jalanan poros Morowali-Poso yang kemudian mengambil jalur kiri di Beteleme. Melintasi kebun karet yang berdiri rapi di sekitar kami, gunung-gunung tinggi menjulang dan hutan rimba yang masih perawan, dalam benakku.. "hutan-hutan perawan ini akan jadi korban berikut, korban dari serakahnya manusia.."
Setelah melintasi perbatasan, tidak lama lagi kami akan melihat danau Matano dari ketinggian, seperti lautan dengan latar belakang asap-asap dari cerobong pabrik nikel di Sorowako, pemandangan yang sebenarnya kontras.

Jam 2 siang kami sudah tiba di dermaga penyeberangan kota Sorowako, membeli karcis mobil di perwakilan Liman dan selanjutnya?? kami masih ada waktu sekitar 6 jam yang harus dihabiskan di kota Sorowako. Tujuan kami adalah Pantai Ide, salah satu destinasi wisata masyarakat Sorowako. Pantai Ide sebenarnya sama saja dengan pantai-pantai di pesisir danau Matano, hanya dis ini dikelola dengan baik oleh pihak pemerintah atau pihak pabrik tambang, ada sebuah dermaga kecil yang menjorok ke atas danau yang memungkinkan kita untuk berjalan lebih ke dalam di bagian danau Matano.

Dari dermaga kecil ini kita bisa melihat benda-benda di dasar danau, pikirku danau ini dangkal karena dasarnya bisa terlihat jelas, tapi seteleh menceburkan diri ke bawah ternyata sangat dalam...
Puas berenang di danau Matano, kami menuju ke rumah salah seorang warga teman si sopir, disini kami menghabiskan waktu menunggu bus Liman memulai perjalanan menuju kota Makassar..

* * *

Dermaga Sorowako

Salah satu perkampungan di tepian danau Matano

Kapal penyeberangan sedang bersandar di dermaga

Kapal penyeberangan danau Matano



Perbatasan Sulawesi Tengah - Sulawesi Selatan (Luwu Timur/Sorowako - Morowali)


Tugu kota Bungku, ibukota kab. Morowali

Disambut dengan tarian daerah, yang semuanya bisa berbaur

Kota Sorowako dengan latar belakang cerobong asap dari pabrik nikel

Berenang di Danau Matano

Menghabiskan waktu di danau Matano

Ditulis di Makassar, 11 Juni 2011

No comments: