Tuesday, February 7, 2012

EKSOTISME TAMAN BATU RAMMANG-RAMMANG


Memasuki Dusun Rammang-Rammang Desa Salenrang Kab. Maros kita akan langsung dihadapkan oleh hamparan sawah dengan gugusan batu-batu hitam di belakangnya, ya! Inilah kawasan Taman Batu Rammang-Rammang.
Berada di kawasan ini, kita seakan dibawa ke Halong Bay Vietnam, hamparan batu berwarna hitam legam dengan tinggi yang bervariasi dari 50 cm sampai puluhan meter, sungguh pemandangan yang luar biasa.

Kawasan Rammang-Rammang ini merupakan miniatur dari kawasan karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dan kawasan karst yang berada di Cina Selatan serta Halong Bay, Vietnam, dan hanya ada 3 tempat di dunia kawasan seperti ini, salah satunya berada dekat dari kami Makassar.

Bapak Badaruddin, salah satu penduduk kampung Rammang-rammang

Suatu pagi di awal Februari 2012, tepatnya di tanggal 5 Februari saya menyempatkan datang ke Rammang-rammang. Perjalanan saya kali ini ditemani oleh Bapak Badaruddin, bapak berusia sekitar 50 tahun, penduduk asli dari Dusun Rammang-Rammang. Menurut cerita beliau, taman batu ini adalah tempat bermain beliau waktu kecil, salah satu sumur di puncak gugusan batu tersebut adalah tempat beliau mengambil air saat musim kemarau waktu dia masih remaja.
Perjalanan kami mulai dengan bercerita santai sambil mereguk kopi yang saya bawa dari rumah di salah satu pondok sawah yang ada di taman batu Rammang-Rammang. Pak Badaruddin begitu semangat bercerita tentang kampungnya yang indah ini, tentang sawah tadah hujan, tentang masyarakat kampung Rammang-Rammang, tentang kesulitan warga akan air bersih saat musim kemarau, tentang empang beliau di tengah-tengah gugusan batu dan masih banyak lagi.


Pemandangan taman batu Rammang-rammang dari luar

Setelah menghabiskan secangkir kopi dan beberapa batang rokok perjalanan pun kami mulai. Menyusuri pematang sawah dengan padi yang masih menghijau, menurut pak Badaruddin, akhir bulan Maret awal bulan April padi-padi tersebut sudah bisa dipanen.
Perjalanan kami agak berat, terhambat oleh air yang banyak tergenang di sekitar kawasan taman batu Rammang-rammang sehingga memaksa saya untuk melepas sepatu, saat musim hujan seperti ini air akan menggenangi kawasan ini sampai kedalaman 60 cm atau melewati lutut orang dewasa, belum lagi lumpur di dasar air. Pak Badaruddin mengusulkan, untuk mengunjungi Rammang-rammang lebih baik di musim kemarau, saat itu kawasan taman batu Rammang-rammang akan kering sehingga kita akan leluasa untuk menyusuri semua area taman batu ini

Setelah menyusuri bagian luar dari gugusan taman batu, pak Badaruddin mengajak saya untuk masuk ke bagian dalam taman batu Rammang-rammang, menyusuri celah batu yang menyerupai lorong-lorong dengan genangan air di bawah. Sampai ke bagian dalam, rupanya ada kolam kecil yang menurut pak badaruddin adalah sebuah empang, tapi saat ini hampir semua bagian empang ini dipenuhi rumput rawa liar, kolam kecil inilah yang disebut oleh masyarakat sebagai “panrenyaong”. Saya membayangkan, betapa indahnya kolam kecil yang berukuran sekitar setengah hektar ini bila tidak ditumbuhi oleh rumput rawa.

Kolam "panrenyaong" di tengah gugusan batu Rammang-rammang

Perjalanan kami lanjutkan, kembali menyusuri celah-celah sempit di antara bebatuan yang kokoh. Medan semakin berat karena air sudah sampai di lutut dan lumpur yang kami pijak semakin dalam. Celah-celah batu ini mengingatkan saya petualangan actor James Franco di film “127 hours” di kawasan Canyon Park. Lorong-lorong di sepanjang gugusan batu ini semua digenangi air, sehingga seakan-akan kami sedang menyusuri gua sungai, tampak ikan-ikan kecil berenang di sekitar kaki seakan menyambut kedatangan kami.


Tujuan kami berikut adalah sebuah sumur atau lebih tepatnya mata air. Masyarakat sekitar menyebutnya “bubung labba”, berada di puncak batu diketinggian sekitar 20 meter, sehingga untuk mencapainya kami harus memanjat dinding batu, melewati lorong kecil dan merangkak. Menurut pak Badaruddin, sumur ini adalah sumber air bersih bagi masyarakat saat musim kemarau. Saya membayangkan betapa sulitnya warga saat mengambil air di sumur tersebut, saya saja yang hanya membawa kamera DSLR dan daypack 10L sampai terengah-engah dan harus berkali-kali berhenti untuk mengambil nafas, bagaimana dengan mereka yang membawa ember, jirigen dan sebagainya yang berisi air sampai 20 liter.

Menuruni tebing dari sumur "bubunglabba"

Tiba di sumur “bubung labba” saya sempat terhenyak melihat kondisi sumur tersebut, sumber mata air ini hampir tertutupi oleh rumput liar karena lama tidak dikunjungi oleh warga, sumur ini hanya berupa lubang kecil berdiameter sekitar 40 cm, menurut pak badaruddin sumur ini tidak pernah kering meski di musim kemarau dan tiap saat digunakan oleh warga, dan uniknya karena sumur ini berada di ketinggian, saya sempat berpikir tadi kalau sumur yang dimaksud pak Badaruddin di puncak batu ini hanya air tadah hujan, tapi setelah melihat langsung kondisinya pikiran saya pun terbantahkan.

Kondisi sumur "bubung labba" yang menjadi salah satu sumber mata air 
warga saat musim kemarau

Kembali perjalanan kami lanjutkan dengan menuruni tebing menuju ke dasar gugusan batu yang penuh dengan air, “saat musim kemarau kita bisa berkeliling di lorong-lorong ini sambil lari-lari” kata pak Badaruddin saat kami menuruni tebing, tapi saat ini sungguh terbalik 180 derajat, jangankan berlari, untuk satu langkah saja kami harus bersusah payah mengangkat kaki yang terbenam di lumpur.
Medan yang kami tempuh selanjutnya adalah sebuah terowongan dengan panjang sekitar 30 meter dengan kondisi yang sangat gelap, menurut perkiraan saya, ini bukan gua, tapi hanya celah batu tapi dengan kondisi batu yang menjulang tinggi sehingga cahaya matahari tidak bisa masuk sampai kedasar tanah. Setelah melewati lorong sekitar 20 meter, di depan sudah mulai nampak cahaya yang masuk lewat celah-celah bebatuan yang artinya sedikit lagi penderitaan ini akan berakhir, sampai di mulut celah batu ternyata kondisi medan semakin berat, kami harus melewati kolam lumpur yang jadi bagian dari sawah warga untuk sampai di pematang sawah.

Sambil menyusuri pematang, pak Badaruddin kembali bercerita tentang kampung Rammang-Rammang ini.
Terbentuknya kawasan karst Rammang-rammang terjadi berjuta-juta tahun lamanya melalui proses pengangkatan daratan dari dasar laut. Menyebabkan terbentuknya lorong-lorong goa yang diantaranya dialiri sungai bawah tanah akibat proses karstifikasi. Bentukan khas dari proses pelarutan gamping menimbulkan pemandangan yang sangat indah dan berbagai macam pohon dicelahnya.
Inilah keunikan Kampung Rammang-rammang yang menarik untuk dikunjungi karena berada di tengah gugusan bukit karts dengan hamparan persawahan dan tambak serta pemukiman warga yang masih tradisonal. Kampung ini sering dikunjungi wisatawan dari berbagai dunia, dari Amerika, Australia, Jepang dan lain-lain

Celah batu yang membentuk lorong

Relief batu bentukan alam


Rimbunan pohon diantara gugusan batu

Bagian dalam taman batu Rammang-rammang


Saat musim hujan, kedalaman air bisa melewati lutut orang dewasa

@rerealfareezy

7 Februari 2012

3 comments:

Anonymous said...

bro, kira2 kalo buat prewed cocok nda ini desa rammang2, karena kalo jauh jalanx dan becek kesian kan terutama yang cew, ada renncana dalam 2 minggu ini mau prewed ke leang2, pas liat desa rammang2 ini jadi tertarik

rere al-fareezy said...

Kalo lagi musim hujan airn menggenang, sebaliknya kalo musim kemarau jadi kering, terakhir saya pergi tgl 17 Mei 2012, baca #1DayTrip Rammag2, itu gambaran kondisi saat itu, klo mau bagusnya di cek dulu..

Kale' Kerabat said...

kalau saya hampir tiap bulan ke sini, tapi sayang kawasan hutan batu di bagian belakang banyak yg rusak utk dijual sbg bahan pondasi. menurut ta bgmn jalan kelarnya bro?
ini tulisan sy ttg rammang2 http://kerabat-balitsereal.blogspot.com/2013/10/eksotika-rammang-rammang.html